MURIANETWORK.COM - Pendapatan perusahaan kecerdasan buatan Anthropic di India telah melonjak dua kali lipat hanya dalam kurun empat bulan terakhir. Pertumbuhan pesat ini, terutama didorong oleh produk Claude Code, menandai adopsi teknologi AI yang sangat cepat di pasar teknologi terbesar kedua dunia tersebut. Anthropic sendiri baru secara resmi membuka kantor di Bengaluru pada Oktober 2025 lalu.
Fokus pada Pasar Perusahaan dan Respons Pengembang
Anthropic, startup yang didanai raksasa teknologi seperti Amazon dan Alphabet, memang menempatkan fokus besar pada solusi AI untuk kalangan bisnis dan profesional. Strategi ini tampaknya berhasil mendapatkan tempat di India. Produk Claude Code, yang dirilis untuk umum pada Mei lalu, dilaporkan mendapat sambutan hangat dari komunitas pengembang di sana.
CEO Dario Amodei mengonfirmasi dinamika positif ini. “Pendapatan bisnis Anthropic di India telah berlipat ganda selama empat bulan terakhir, dan Claude Code bahkan mungkin tumbuh lebih cepat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Amodei menjelaskan karakteristik produk yang cocok dengan kebutuhan pasar. “Claude sejak awal memang lebih condong ke produktivitas dan beban kerja profesional, dan itu semakin terasa di India,” lanjutnya.
Ekspansi dan Kekuatan Finansial
Momentum ekspansi ke India ini diperkuat oleh kondisi finansial Anthropic yang sangat solid. Baru-baru ini, perusahaan berhasil mengumpulkan dana segar sebesar USD 30 miliar dalam sebuah putaran pendanaan. Putaran tersebut menempatkan valuasi Anthropic pada angka yang fantastis, yakni sekitar USD 380 miliar.
Keberhasilan pendanaan ini memberikan modal yang besar bagi Anthropic untuk terus berinovasi dan memperkuat penetrasi pasarnya, termasuk di India yang dianggap sebagai pasar terbesar kedua setelah Amerika Serikat.
Dampak dan Kekhawatiran di Industri Lokal
Namun, laju adopsi AI generatif yang begitu cepat tidak datang tanpa gejolak. Peluncuran Claude Cowork, agen AI yang dirancang untuk membantu tugas profesional, sempat memicu gelombang kekhawatiran. Plugin yang diluncurkan pada Januari tersebut mampu mengotomatisasi sejumlah tugas, yang berimbas pada aksi jual massal saham-saham perangkat lunak di pasar global.
Di India, kekhawatiran serupa muncul. Industri layanan teknologi informasi (TI) negara itu, yang bernilai ratusan miliar dolar, mulai merasa dampaknya. Hingga Februari, dilaporkan terjadi penyusutan kapitalisasi pasar yang signifikan pada perusahaan-perusahaan eksportir perangkat lunak India, mencapai lebih dari USD 47 miliar. Fenomena ini memicu diskusi tentang bagaimana industri TI tradisional harus beradaptasi di era otomasi berbasis AI.
Jalinan Kemitraan Strategis
Di tengah dinamika tersebut, Anthropic aktif membangun kemitraan strategis dengan berbagai perusahaan besar dan startup di India. Kerja sama ini menunjukkan kepercayaan dunia usaha terhadap solusi yang ditawarkan.
Maskapai nasional Air India, misalnya, memanfaatkan Claude Code untuk mempercepat pengembangan perangkat lunak internal dan mengintegrasikan teknologi AI berbasis agen dalam operasionalnya. Di sisi lain, perusahaan IT global Cognizant menerapkan Claude untuk memodernisasi sistem warisan (legacy system) yang dimilikinya.
Tak hanya korporasi besar, Anthropic juga menjalin kolaborasi dengan berbagai startup India yang bergerak di sektor-sektor spesifik seperti hukum, pendidikan, kesehatan, dan pertanian. Pengumuman berbagai kemitraan ini bertepatan dengan rencana kehadiran CEO Dario Amodei dalam India AI Impact Summit pekan ini, yang semakin menegaskan komitmen perusahaan terhadap pasar India.
Artikel Terkait
Pemerintah Salurkan Bantuan Beras dan Minyak Goreng ke 33,2 Juta Penerima Jelang Ramadan 2026
Saint Kitts dan Nevis Datangkan Pelatih Baru, Tantangan Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Pesawat Hibah Garuda Diresmikan di Aceh untuk Simulasi Manasik Haji
Ekspor Kopi Indonesia Tembus USD 1,63 Miliar, Pemerintah Fokuskan Hilirisasi