MURIANETWORK.COM - Konglomerat teknologi dan investasi asal Jepang, SoftBank Group, kembali mencatatkan laba bersih pada kuartal Oktober-Desember 2025. Pencapaian ini menandai empat kuartal berturut-turut perusahaan meraih keuntungan, sebuah pemulihan signifikan dari periode kerugian sebelumnya. Kinerja positif ini didorong terutama oleh kenaikan nilai investasi besar-besaran mereka di OpenAI, perusahaan pengembang ChatGPT.
Laba Kuartalan yang Menguat
Pada kuartal ketiga tahun fiskal 2025, SoftBank melaporkan laba bersih sebesar 248,6 miliar yen atau setara dengan Rp27 triliun. Angka ini merupakan kebalikan total dari kondisi setahun sebelumnya, di mana mereka justru mencatat kerugian bersih hingga 369 miliar yen. Pergeseran dari merah ke hitam dalam laporan keuangan mereka merefleksikan dinamika portofolio investasi yang mulai menunjukkan hasil.
OpenAI sebagai Penggerak Utama
Pendorong utama pertumbuhan SoftBank berasal dari apresiasi valuasi sahamnya di OpenAI. Perusahaan telah menanamkan modal lebih dari 30 miliar dolar AS, mengantongi kepemilikan sekitar 11 persen di perusahaan kecerdasan buatan tersebut. Investasi strategis ini telah memberikan kontribusi keuntungan yang substansial bagi SoftBank.
“SoftBank mengatakan pihaknya mengantisipasi total keuntungan investasi dari investasinya di OpenAI sebesar USD19,8 miliar pada akhir Desember 2025,” jelas laporan keuangan resmi perusahaan.
Momentum OpenAI sendiri terus menguat. Perusahaan dikabarkan sedang mencari suntikan modal baru hingga 100 miliar dolar AS, yang akan mendongkrak valuasinya menjadi sekitar 830 miliar dolar AS. Dalam putaran pendanaan besar ini, SoftBank disebut-sebut bergabung dengan raksasa teknologi lain seperti Amazon dan Nvidia sebagai calon investor potensial.
Strategi Pendanaan dan Restrukturisasi Portofolio
Untuk mendanai ambisi investasinya di sektor AI yang memerlukan modal besar, SoftBank melakukan berbagai langkah strategis. Mereka melakukan penjualan aset, penerbitan obligasi, dan restrukturisasi portofolio. Langkah nyata termasuk menjual seluruh kepemilikan sahamnya di Nvidia, serta melepas sebagian saham di operator telekomunikasi T-Mobile antara Juni dan Desember tahun lalu.
Manuver ini menunjukkan fokus yang lebih tajam dan kehati-hatian dalam mengalokasikan modal, beralih dari strategi agresif di masa lalu menuju konsolidasi pada sektor-sektor yang diyakini memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Meski saat ini diuntungkan oleh investasi di OpenAI, SoftBank dan perusahaan teknologi yang mereka danai tidak lepas dari tantangan. Pasar kerap mempertanyakan risiko dari konsentrasi investasi yang terlalu besar pada satu entitas. Selain itu, meski OpenAI sempat dianggap pemimpin di bidang model bahasa besar (LLM), persaingan kini semakin ketat dengan kehadiran pesaing kuat seperti Alphabet.
Di sisi lain, prospek jangka panjang tetap menarik. OpenAI sendiri sedang mempersiapkan penawaran umum perdana (IPO) yang diperkirakan akan menjadi salah yang terbesar dalam sejarah. Langkah ini, jika terealisasi, dapat memberikan likuiditas dan apresiasi nilai lebih lanjut bagi investor awal seperti SoftBank, sekaligus menjadi ujian nyata kepercayaan pasar terhadap valuasi perusahaan teknologi generasi baru.
Dengan demikian, laba beruntun SoftBank bukan sekadar angka kuartalan, tetapi cerminan dari transisi strategis yang penuh perhitungan di tengah lanskap teknologi global yang terus berubah cepat.
Artikel Terkait
Pembangunan Kampung Nelayan Capai 50 Persen, Presiden Tekankan Penguatan Kelembagaan
BSI Targetkan Tambah 2 Juta Nasabah Baru Didorong Laju Bisnis Emas
Sidang Ijazah Jokowi di KIP Jateng Memanas, PPID Surakarta Tetap Klaim Tak Kuasai Dokumen
24 Perusahaan Lolos Seleksi Awal Tender Proyek Sampah Jadi Listrik Danantara