MURIANETWORK.COM - Sektor pariwisata dinilai memiliki dampak ekonomi langsung yang luas bagi masyarakat, dengan kemampuan menyerap hingga 25,91 juta tenaga kerja. Hal ini ditegaskan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dalam sebuah forum kerja di Semarang, Selasa (10/2/2026). Kontribusi industri ini, terutama perhotelan dan restoran, dianggap unik karena mendistribusikan manfaat ekonominya secara lebih merata ke berbagai lapisan masyarakat dibandingkan sektor lain.
Efek Berganda Pariwisata dan Distribusi Pendapatan
Ketua Umum PHRI, Hariyadi Sukamdani, menjelaskan bahwa kegiatan ekonomi di bidang pariwisata menciptakan efek berganda yang signifikan. Rantai manfaatnya tidak hanya berhenti pada hotel dan restoran besar, tetapi menjalar ke pedagang kuliner lokal, pengemudi, hingga para perajin yang menjual karya seninya. Ekosistem ini yang membuat dampaknya begitu terasa di tingkat akar rumput.
Hariyadi kemudian membandingkan model distribusi pendapatan ini dengan sektor industri lainnya. "Tentunya distribusi pendapatan ini berbeda dengan sektor yang lain. Kalau sektor yang lain, perolehan keuntungan atau nilai komersial yang diperoleh, hanya dinikmati oleh segelintir orang," tuturnya.
Kontribusi Nyata bagi Pendapatan Daerah
Lebih lanjut, industri ini disebut memberikan suntikan penting bagi keuangan daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari hotel dan restoran menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dari waktu ke waktu. Hal ini bukan sekadar klaim, tetapi telah disadari oleh banyak pemimpin daerah.
"Mungkin Ibu Wali Kota (Semarang) yang tahu persis catatannya, dan Pak Bima Arya waktu masih di Bogor (saat jadi Wali Kota Bogor) tahu persis kontribusi dari sektor hotel dan restoran itu berapa gitu. Dari waktu ke waktu selalu meningkat," jelas Hariyadi, merujuk pada catatan riil di tingkat pemerintahan kota.
Prestasi dan Pengakuan di Tingkat Global
Dukungan data terhadap peran vital pariwisata juga datang dari catatan resmi pemerintah. Sepanjang tahun 2025, sektor ini berhasil mempertahankan momentum pertumbuhannya dan memberikan sumbangan berarti terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Prestasinya pun mendapat sorotan internasional.
Indonesia berhasil meraih 153 penghargaan internasional di bidang pariwisata pada tahun tersebut, sebuah lompatan lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pengakuan tersebut beragam, mulai dari Michelin Keys untuk 33 hotel dan resor, hingga penghargaan untuk kuliner dan pengembangan desa wisata. Prestasi ini bukan hanya sekadar piala, tetapi cerminan dari peningkatan kualitas dan daya saing yang diakui dunia.
Motor Penggerak Ekonomi Nasional
Data Badan Pusat Statistik (BPS) semakin mengukuhkan posisi strategis sektor ini. Pada kuartal III tahun 2025, sektor akomodasi (penyediaan tempat tinggal) dan makanan-minuman tercatat sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Angka ini memperkuat narasi bahwa investasi dan perhatian pada pariwisata serta industri pendukungnya bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk ketahanan ekonomi yang inklusif.
Artikel Terkait
Dirjen KI Akui UU Hak Cipta Belatur Atur Karya Musik Hasil AI
Pemerintah Luncurkan Stimulus Rp911 Miliar untuk Mudik dan Daya Beli Jelang Lebaran 2026
Kapolri Tegaskan Pengawasan Ketat atas Praktik Saham Gorengan
KPK Selidiki Kaitan Jabatan Kepala KPP di 12 Perusahaan dengan Kasus Suap Restitusi