"Mungkin Ibu Wali Kota (Semarang) yang tahu persis catatannya, dan Pak Bima Arya waktu masih di Bogor (saat jadi Wali Kota Bogor) tahu persis kontribusi dari sektor hotel dan restoran itu berapa gitu. Dari waktu ke waktu selalu meningkat," jelas Hariyadi, merujuk pada catatan riil di tingkat pemerintahan kota.
Prestasi dan Pengakuan di Tingkat Global
Dukungan data terhadap peran vital pariwisata juga datang dari catatan resmi pemerintah. Sepanjang tahun 2025, sektor ini berhasil mempertahankan momentum pertumbuhannya dan memberikan sumbangan berarti terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Prestasinya pun mendapat sorotan internasional.
Indonesia berhasil meraih 153 penghargaan internasional di bidang pariwisata pada tahun tersebut, sebuah lompatan lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pengakuan tersebut beragam, mulai dari Michelin Keys untuk 33 hotel dan resor, hingga penghargaan untuk kuliner dan pengembangan desa wisata. Prestasi ini bukan hanya sekadar piala, tetapi cerminan dari peningkatan kualitas dan daya saing yang diakui dunia.
Motor Penggerak Ekonomi Nasional
Data Badan Pusat Statistik (BPS) semakin mengukuhkan posisi strategis sektor ini. Pada kuartal III tahun 2025, sektor akomodasi (penyediaan tempat tinggal) dan makanan-minuman tercatat sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Angka ini memperkuat narasi bahwa investasi dan perhatian pada pariwisata serta industri pendukungnya bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk ketahanan ekonomi yang inklusif.
Artikel Terkait
Korlantas Siapkan Skenario One Way Tahap Ketiga Antisipasi Puncak Arus Balik
KPK Imbau Kepala Daerah Evaluasi Penyalahgunaan Kendaraan Dinas untuk Mudik
Jasa Marga Operasikan Japek II Selatan untuk Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran
Kemenhub Antisipasi Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026, Imbau Masyarakat Hindari Keberangkatan Serempak