Horor di Kordofan Utara: Drone Menghantam Pengungsi, 24 Tewas
Khartoum – Suara ledakan di Sabtu (7/2/2026) itu memutus harapan. Sebuah kendaraan yang penuh sesak membawa keluarga-keluarga pengungsi di wilayah tengah Sudan tiba-tiba jadi sasaran. Serangan drone, yang diduga dilancarkan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), merenggut nyawa sedikitnya 24 orang. Yang menyayat hati, delapan dari korban adalah anak-anak. Dua di antaranya masih bayi.
Menurut laporan Jaringan Dokter Sudan, kejadian mengerikan ini berlangsung dekat Kota Rahad, di Provinsi Kordofan Utara. Mereka yang berada di dalam kendaraan itu adalah warga sipil yang berusaha menyelamatkan diri dari pertempuran sengit di daerah Dubeiker. “Kami mencatat korban luka-luka juga cukup banyak,” tulis jaringan dokter itu. Korban yang selamat langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat di Rahad. Namun begitu, situasi di sana jauh dari memadai. Seperti banyak wilayah Kordofan lainnya, Rahad dilanda kelangkaan pasokan medis yang parah akibat konflik yang tak kunjung usai.
Jaringan Dokter Sudan tak tinggal diam. Mereka mendesak komunitas internasional dan berbagai organisasi HAM untuk segera turun tangan. Desakan keras juga ditujukan agar pimpinan RSF dimintai pertanggungjawaban penuh atas serangan ini. Sampai berita ini diturunkan, RSF sendiri masih bungkam, belum memberikan pernyataan resmi apa pun.
Ini bukan insiden pertama dalam rentang waktu singkat. Hanya sehari sebelumnya, konvoi bantuan Program Pangan Dunia (WFP) juga diserang di wilayah yang sama. Koordinator kemanusiaan PBB untuk Sudan, Denise Brown, mengonfirmasi serangan Jumat itu menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.
“Konvoi kami sedang dalam perjalanan mengantarkan bantuan pangan darurat untuk pengungsi di Obeid ketika diserang,” jelas Brown.
Akibatnya, truk-truk bantuan hangus terbakar dan logistik kemanusiaan musnah. Brown menegaskan, serangan semacam ini jelas menghambat upaya menyelamatkan warga yang terancam kelaparan dan terusir dari rumah mereka. Sepekan sebelumnya, insiden serupa sudah terjadi di dekat fasilitas WFP di Provinsi Blue Nile, yang melukai seorang pekerja organisasi tersebut.
Lantas, siapa yang bertanggung jawab? Kelompok Emergency Lawyers secara tegas menyalahkan RSF. Sementara Jaringan Dokter Sudan menyebut serangan ini sebagai pelanggaran berat hukum humaniter internasional yang berpotensi digolongkan sebagai kejahatan perang.
Kecaman pun berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Massad Boulos, pejabat AS untuk urusan Afrika dan Arab, menyatakan penghancuran bantuan pangan dan pembunuhan pekerja kemanusiaan adalah tindakan yang tak bisa ditolerir. Inggris dan Arab Saudi juga menyuarakan kutukan keras mereka atas serangan drone RSF yang menyasar warga sipil, konvoi bantuan, hingga fasilitas kesehatan di Sudan.
Perang saudara yang meledak sejak April 2023 ini memang telah meninggalkan luka yang dalam. Lebih dari 40.000 orang tewas, memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia saat ini. Laporan terbaru memperingatkan ancaman kelaparan yang kian meluas. Jutaan anak dan perempuan diprediksi berisiko mengalami malnutrisi akut pada 2026. Sayangnya, di tengah semua penderitaan ini, konflik masih sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan reda.
Artikel Terkait
Prabowo Janjikan Penurunan Biaya Haji dan Pembangunan Kampung Indonesia di Makkah
Batik Keris Solo Bertahan Seabad dengan Strategi Heritage dan Teknologi
Harga Pangan Pokok Turun Jelang Ramadan 2026
Indodana Gandeng Mister Aladin Tawarkan Diskon dan Cicilan 0% untuk Liburan