Iftitah mengingatkan pentingnya kesiapan ini agar peluang yang ada tidak terbuang percuma. “Jangan sampai nanti ada peluang investasi, tenaga kerja terbuka, tapi masyarakat tidak terserap sebagai tenaga kerja karena kapasitasnya kurang. Itulah kata kuncinya,” ungkapnya.
Revitalisasi Kawasan dan Kesiapan Infrastruktur Pendukung
Dari perspektif yang lebih makro, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyoroti dua pilar utama: revitalisasi wilayah dan transformasi SDM. Dua hal ini, menurutnya, adalah kunci agar program transmigrasi berdampak nyata pada perputaran roda perekonomian.
AHY menekankan pentingnya optimalisasi kawasan yang sudah ada. Infrastruktur yang tersedia harus benar-benar dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Di sisi lain, untuk kawasan yang masih membutuhkan, pembangunan infrastruktur harus disesuaikan dengan karakteristik masyarakat dan potensi unggulan daerah setempat.
“Jadi kami harus memastikan sebuah kawasan transmigrasi benar-benar memiliki kesiapan infrastruktur, apakah jalannya, perumahannya, listriknya, komunikasinya, termasuk juga jika itu merupakan daerah pertanian, kami pastikan ada sumber air, bukan hanya dikonsumsi oleh rumah tangga, tapi juga untuk pengairan sawah dan kebun yang dikelolanya,” papar AHY.
Pendekatan yang holistik ini menunjukkan pergeseran strategi dari sekadar memindahkan penduduk menuju pembangunan ekosistem yang berkelanjutan, di mana kualitas manusia dan kelayakan hidup menjadi fondasi utamanya.
Artikel Terkait
124 Perusahaan Angkutan Baru Kena Sanksi karena Langgar Larangan Truk Saat Mudik
Produksi Grasberg Block Cave Freeport Diprediksi Normal dalam 2-3 Minggu
Lebaran 2026: 2 Juta Kendaraan Sudah Keluar Jabotabek, Trans Jawa Jadi Primadona
Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Kecuali untuk Kapal Musuh