Menurutnya, kunci utamanya adalah membuat proyek-proyek ini menjadi layak secara komersial. "Sektor keuangan, bagaimana kita membuat pembiayaan hijau dengan skema blended finance yang bisa lebih menguntungkan baik bagi pelaku usaha maupun dari sektor finansial itu sendiri," tuturnya.
Konsep blended finance dinilai crucial untuk menjembatani gap antara kebutuhan pembiayaan proyek dan ekspektasi imbal hasil investor. Pemerintah menyadari bahwa anggaran negara saja tidak akan cukup untuk memenuhi target kapasitas Energi Baru Terbarukan (EBT) yang ambisius. Oleh karena itu, kolaborasi yang erat antara pemerintah, BUMN, dan swasta menjadi pondasi mutlak untuk menciptakan ekosistem investasi yang sehat dan berisiko terkendali.
Transisi Energi sebagai Gerakan Kolektif
Lebih dari sekadar urusan teknis dan finansial, Yuliot menekankan bahwa transisi energi adalah sebuah upaya kolektif yang membutuhkan kontribusi aktif dari seluruh pemangku kepentingan. Tujuannya tidak hanya memenuhi komitmen lingkungan, tetapi juga menjaga dan meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global.
Ia mengungkapkan, "Ini tidak hanya dijalankan oleh pemerintah, tetapi bagaimana kolaborasi kita bersama untuk mewujudkan kelebihan energi, daya saing global dan juga keberlanjutan lingkungan."
Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kesuksesan transisi energi bergantung pada sinergi yang solid, di mana setiap pihak dari regulator, pelaku industri, hingga lembaga keuangan memiliki peran krusial untuk dijalankan.
Artikel Terkait
Lebaran 2026: Ragunan Dibanjiri 72 Ribu Pengunjung di Hari Pertama Libur
Ragunan Dibanjiri 72 Ribu Pengunjung di Hari Pertama Libur Lebaran
Menhub Fokuskan Strategi Antisipasi Lonjakan Arus Balik 2026 di Bakauheni
Arus Balik Lebaran 2026 Memuncak, 51.015 Penumpang Tiba di Jakarta dalam Sehari