Namun begitu, JK tak menampik realitas yang agak pahit. Dalam persetujuan dewan itu, semua keputusan akhir ada di tangan Trump. Negara-negara lain yang bergabung, posisinya lebih sebagai pendengar dan pengusul belaka. "Dalam persetujuan itu dituliskan Ketuanya Trump sekaligus dia mempunyai hak veto, lainnya bisa mengusulkan tapi di-veto mau apalagi," jelasnya. "Jadi artinya lembaga itu wadah Trump."
Di sisi lain, ia tetap menyimpan harapan. Terutama karena sejumlah negara Islam, termasuk Indonesia, turut serta dalam dewan tersebut. Kehadiran mereka, di mata JK, punya tanggung jawab moral yang besar.
"Terpenting menghentikan perang ini," tegasnya. Gaza sudah porak-poranda, korban jiwa berjatuhan. Itu yang harus dihentikan dulu.
Lalu, harapan berikutnya ia letakkan pada negara-negara Islam itu. Mereka diharapkan bisa benar-benar menjadi penyambung lidah dan pembawa aspirasi rakyat Palestina di forum yang didominasi Trump itu. "Kita harap mereka dapat mewakili kepentingan Palestina," kata JK. "Kalau negara Islam tidak mewakili kepentingan atau aspirasi Palestina, maka ini akan menjadi masalah."
Intinya, bagi JK, forum ini adalah sebuah langkah. Bukan solusi sempurna, tapi sebuah peluang sekecil apa pun untuk menghentikan penderitaan di Gaza dan memulai pemulihan.
Artikel Terkait
Perang dengan Iran Borong Rp5,4 Triliun Anggaran Israel per Hari
Sopir Bus Relakan Mudik Demi Antar Penumpang Pulang Kampung
Rest Area KM 207A Cirebon Sepi Usai Arus Mudik Surut
Transaksi Jakarta Tembus Rp21 Triliun Selama Ramadan, Tertinggi di Jawa