Rabu kemarin, tepatnya tanggal 28 Januari 2026, suasana di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah cukup ramai. Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Panitia Imlek Nasional akhirnya membeberkan logo resmi untuk Gelaran Imlek Festival yang akan digelar pada 17 Februari hingga 3 Maret 2026 mendatang. Logo itu langsung menarik perhatian.
Bentuknya adalah kuda lumping, berwarna merah dan putih. Tema yang diusung 'Harmoni Imlek Nusantara' langsung terasa kuat. Menurut Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif yang juga Ketua Umum Panitia Pelaksana, pilihan desain ini sangat disengaja. Mereka ingin identitas lokal benar-benar menyatu dengan semangat perayaan Imlek.
“Pengenalan logo yang ini sangat Indonesia banget. Mungkin kalau teman-teman ngeliat di rambutnya si kuda itu sudah langsung keinget apa, kuda lumping bukan? Ya, kan? Itu Indonesia banget, kan,” ujar Irene dalam konferensi pers tersebut.
Namun begitu, rupanya ada filosofi mendalam di balik gambar kuda itu. Irene menjelaskan, setiap detail punya pesannya sendiri. Dari mahkota hingga sorot mata, semuanya bicara soal nasionalisme dan semangat yang berkobar. Kebetulan, tahun 2026 adalah Tahun Kuda Api dalam zodiak China.
“Mulai dari merah putih di rambut kuda untuk mengingatkan kita bahwa mahkotanya kita itu adalah bendera merah putih. Kenapa ada bentuknya seperti kuda lumping? Karena kita ingat selalu dengan budayanya kita. Lalu, kalau kita bergeser ke matanya, itu adalah matanya api. Api itu mengobarkan semangat,” jelas dia.
Logo ini ternyata bukan cuma soal keindahan visual. Menurut Irene, ada pesan tentang kebijaksanaan dan kekuatan yang terkendali. Posisi mulut dan kaki kuda sengaja dirancang untuk melambangkan hal itu.
“Di mulutnya itu kita berarti harus sangat penuh dengan wisdom pada saat kita berbicara. Dan dengan energi yang luar biasa dari kaki seekor kuda, kita tetap tidak liar. Setiap step adalah penuh makna dan penuh wisdom yang terkontrol, supaya arahnya menuju ke arah Indonesia Emas tentunya,” tutur Irene.
Di sisi lain, kekayaan budaya Nusantara juga tak terlupakan. Tiga elemen motif batik pesisir menghiasi tubuh sang kuda. Motif batik Banji, Pucung Rebung, dan bunga batik di kaki yang terangkat sengaja dipilih. Tujuannya sederhana: agar kemajuan zaman tidak membuat kita lupa pada nilai-nilai kemanusiaan dan budaya.
"Ada tiga elemen yang sangat Indonesia banget... supaya pada saat kita melangkah sama seperti sang kuda galloping forward, itu kita tetap akan ingat dengan kebudayaan kemanusiaannya kita," beber dia.
Ada satu keunikan lagi. Perayaan Imlek 2026 kebetulan berdekatan dengan bulan suci Ramadhan. Fakta ini pun diabadikan dalam logo, lewat dua garis di ekor kuda yang melambangkan keseimbangan hidup.
"Di buntut kuda itu ada dua lines, kenapa? Karena tahun ini sangat spesial. Pertama ada Imlek, kemudian dirayakan di bulan Ramadhan. Dualisme itu kan harus seimbang ya. Jadi ada dualisme yang seimbang. Itulah yang dipancarkan dari sebuah logo Harmoni Imlek Nusantara,” papar Irene.
Harapannya besar. Lewat logo dan festival ini, Indonesia ingin jadi destinasi utama perayaan Imlek tingkat dunia. Ini adalah bukti nyata persatuan di tengah dunia yang serba dinamis. Intinya, Indonesia ingin menunjukkan diri sebagai negara yang paling menjunjung tinggi keberagaman.
“Tujuan kita bikin ini supaya ini bisa jadi event tahunan. Supaya orang-orang enggak usah ke luar negeri, tapi di Indonesia sendiri bisa menikmati Imlek yang sangat meriah. Juga bisa menunjukkan kepada seluruh dunia bahwa Indonesia adalah negara yang paling inklusif, di mana Ramadan dan Imlek dirayakan bersamaan dengan damai sejahtera,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Kanselir Jerman Kecam AS dan Israel karena Meremehkan Kekuatan Iran
Transjakarta Sediakan Shuttle Gratis untuk Penumpang KRL Terdampak Kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur
Lima Tim Kuda Hitam yang Siap Jadi Kejutan di Piala Dunia 2026
Wagub Jakarta Rano Karno Melayat Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, Pastikan Bantuan Pemprov Mengalir