Rumput Liar di Sela Paving: Pelajaran Ketangguhan yang Terlupakan

- Minggu, 25 Januari 2026 | 18:06 WIB
Rumput Liar di Sela Paving: Pelajaran Ketangguhan yang Terlupakan

Setiap pagi, ayah saya dengan telaten menyiram halaman. Rumput gajah yang ditanam rapi itu selalu dapat perhatian khusus. Diberi pupuk teratur, dicabuti gulmanya. Tapi anehnya, yang tumbuh paling subur justru rumput liar di sela-sela paving. Tanpa disiram, tanpa pupuk, bahkan diinjak-injak setiap hari, mereka tetap hijau segar. Sementara si rumput gajah yang dimanjakan? Gampang sekali menguning. Entah karena hujan deras atau panas terik berlebihan. Fenomena sederhana ini kerap bikin saya termenung lama. Kenapa yang dirawat justru rapuh, sementara yang dibiarkan malah tumbuh kuat?

Kalau dipikir-pikir, masyarakat modern kita mirip sekali dengan rumput gajah itu. Kita dibesarkan dalam sistem yang serba terencana dan aman. Pendidikan formal mengajarkan kita mengikuti kurikulum yang sudah baku. Karier punya jenjang yang jelas. Bahkan kesuksesan diukur dengan parameter yang nyaris seragam. Hasilnya? Lahirlah generasi yang jago mengikuti peta, tapi langsung panik saat GPS-nya error. Kita mahir menghafal rumus, tapi bingung total ketika masalahnya tidak ada di buku panduan. Persis seperti rumput gajah: cantik dipandang, tapi mudah layu begitu kondisi berubah sedikit saja.

Namun begitu, orang-orang paling tangguh yang saya temui justru tumbuh bak rumput liar. Ambil contoh pedagang kaki lima yang bisa membaca gelagat ekonomi lebih tajam dari analis berdasi sekalipun. Atau ibu tunggal yang mengasuh tiga anak sambil berjualan gorengan; mereka ahli mengelola krisis dengan kepala dingin. Belum lagi anak putus sekolah yang membangun bisnis dari nol mereka seringkali lebih lincah dan adaptif menghadapi perubahan pasar dibanding lulusan kampus ternama. Mereka tak punya privilege keamanan. Setiap hari adalah pertarungan hidup. Dan justru dari situlah kekuatan sejati mereka lahir.

Di sisi lain, sistem pendidikan kita seolah dirancang untuk mencetak karyawan patuh, bukan petarung yang tangguh. Sekolah mengajarkan hanya ada satu jawaban benar untuk setiap soal. Kuliah membentuk spesialisasi yang sempit. Lalu dunia kerja menuntut kepatuhan mutlak pada SOP. Semuanya terstruktur rapi, aman, dan bisa diprediksi. Tiba-tiba pandemi datang dan mengacak-acak segalanya. Perusahaan besar yang puluhan tahun stabil, kolaps dalam hitungan bulan. Sementara tukang bakso yang biasa keliling, dengan gesit beralih ke sistem delivery dan bertahan. Siapa yang lebih terdidik? Jelas yang pertama. Tapi siapa yang lebih mampu bertahan? Justru yang kedua.

Kita ini terlalu takut pada ketidakpastian. Orangtua menabung mati-matian untuk masa depan anak, memastikan semuanya "aman". Anak-anak dijauhkan dari kegagalan, dari rasa sakit, dari kekecewaan. Hasilnya? Lahirlah generasi yang cemerlang di atas kertas, tapi rapuh di dunia nyata. Mereka bisa meraih IPK sempurna, namun dilanda kecemasan saat harus presentasi di depan klien. Bisa menulis thesis ratusan halaman, tapi tak tahu cara bernegosiasi dengan tukang ojek. Kemampuan akademis tinggi, sementara kecakapan hidup mendekati nol.

Rumput liar tak pernah diajari cara menghadapi kekeringan. Mereka mengalaminya langsung. Akarnya terpaksa menggali lebih dalam mencari air. Batangnya mengeras karena terus diinjak. Mereka tak punya pilihan: beradaptasi atau mati. Dan adaptasi itulah yang membentuk kekuatan mereka. Bandingkan dengan rumput gajah. Akarnya dangkal karena air selalu tersedia. Batangnya lembut karena tak pernah ada tekanan. Saat tantangan datang, mereka tak punya mekanisme bertahan.


Halaman:

Komentar