Dini hari yang gelap di Kabupaten Bandung Barat berubah menjadi mimpi buruk. Hujan deras yang mengguyur sejak pukul 02.30 WIB memicu tanah longsor hebat, menimbun permukiman warga di Desa Pasir Langu, Cisarua. Akibatnya, puluhan nyawa terancam. Hingga siang ini, delapan orang dinyatakan meninggal dunia.
Yang membuat hati ciut, sebanyak 82 warga lainnya masih hilang dan diduga tertimbun material longsoran. Pencarian terhadap mereka masih terus digenjot.
“Hingga pukul 10.30 WIB, puluhan warga dilaporkan selamat dan 82 orang masih dalam proses pencarian,”
kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (24/1/2026).
Ia yang akrab disapa Aam menambahkan, bencana ini dampaknya cukup luas. Selain korban jiwa, ada 23 jiwa yang berhasil diselamatkan. Sekitar 34 kepala keluarga atau 113 jiwa terdampak, sementara jumlah rumah rusak masih dalam pendataan lapangan.
Di sisi lain, respon penanganan darurat sudah bergulir cepat. BPBD Kabupaten Bandung Barat langsung turun ke lokasi untuk melakukan asesmen awal dan mengkoordinir upaya pencarian korban.
Situasi ini sebenarnya sudah diantisipasi. Kabupaten Bandung Barat sendiri sudah lebih dulu menetapkan Status Siaga Darurat Bencana untuk banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, dan tanah longsor sejak Oktober tahun lalu. Status itu akan berlaku hingga akhir April 2026.
Tak cuma di tingkat kabupaten. Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga sudah memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi sejak September 2025. Artinya, kewaspadaan memang sudah ditingkatkan, meski bencana tetap datang tak terduga.
Sementara di lapangan, upaya penyelamatan terus berjalan dengan tensi tinggi. Tim SAR Gabungan dikerahkan untuk mencari puluhan warga yang masih hilang.
“Saat ini tim SAR Gabungan masih terus mengupayakan pencarian terhadap korban yang masih tertimbun dengan observasi visual, penggalian manual, penyemprotan tanah menggunakan alkon dan juga pemantauan menggunakan drone UAV,”
jelas Staf Operasi SAR Kantor SAR Bandung, Mamang Fatmono.
Menurutnya, operasi pencarian langsung melibatkan drone UAV untuk memetakan area. Begitu ada korban ditemukan, proses evakuasi akan segera dilakukan. Hingga pukul 12.30 WIB, data korban hilang masih bertahan di angka 82 orang. Pencarian terus berlanjut, di tengah harapan yang makin menipis dan cuaca yang tidak menentu.
Artikel Terkait
Atalia Praratya: Rekrutmen Sekolah Rakyat Harus Jamin Keberlanjutan Pendidikan Anak Jalanan
Pemerintah Tambah Kuota Magang Nasional 2026-2027 Usai 100.000 Peserta Terserap
Trump Dievakuasi dari Gedung Putih Usai Suara Tembakan, Presiden AS Pastikan Situasi Aman
Orang Tua Korban Kekerasan di Daycare Yogyakarta Datangi Polresta, Tuntut Keadilan