YERUSALEM Suara mesin berat mengguncang kawasan Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, Selasa lalu. Di bawah pengawalan ketat, buldozer dan ekskavator militer Israel meratakan markas besar UNRWA, badan PBB yang menangani pengungsi Palestina. Aksi ini bukan sekadar pembongkaran bangunan. Banyak yang melihatnya sebagai pukulan telak yang memperkeruh konflik panjang antara kedua pihak.
UNRWA sendiri punya peran vital. Sejak 1949, mereka mengurusi layanan penting bagi pengungsi, mulai dari sekolah, klinik, hingga bantuan pangan untuk jutaan orang di Gaza, Tepi Barat, dan negara tetangga.
Reaksi datang keras dari pucuk pimpinan badan PBB itu. Philippe Lazzarini, Komisaris Jenderal UNRWA, tak menyembunyikan kemarahannya. Dia menyebut peristiwa ini sebagai serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap PBB oleh Israel.
tulis Lazzarini di platform media sosial X. Dia merasa bangunan yang seharusnya dilindungi hukum internasional justru dihancurkan.
lanjutnya dengan nada waspada. Menurutnya, tindakan Israel ini bisa jadi preseden buruk, membuka peluang penghancuran kantor organisasi atau misi diplomatik PBB di mana saja.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas