Momentum kendaraan listrik di Indonesia sedang bagus-bagusnya. Tapi, jangan sampai lengah. Jika tak dijaga, kita bisa kembali terperangkap dalam ketergantungan pada BBM fosil. Itu sih yang mau dihindari.
Menurut Abra Talattov dari Indef, peran kendaraan listrik ini strategis banget untuk menghemat energi fosil. "EV punya peran strategis untuk mengurangi konsumsi energi fosil," ujarnya. Dia memperingatkan, kalau momentum ini sampai terhenti, beban subsidi energi buat negara justru bisa makin menggila.
Angkanya memang menggembirakan. Sepanjang 2025 lalu, penjualan mobil listrik wholesale melesat hingga 103 ribu unit lebih. Itu artinya lonjakan fantastis, sekitar 141 persen dibanding tahun sebelumnya. Pangsa pasarnya sudah nyaris 13 persen, tanda bahwa masyarakat mulai melirik serius.
Tapi begitu, bagi Abra, urusan EV bukan cuma soal berapa unit yang laku. Lebih dari itu. Dia bilang, yang penting adalah bagaimana industri otomotif dalam negeri menguat, hilirisasi nikel dan baterai berjalan, SPKLU makin banyak, dan pasokan listriknya tentu harus andal.
Tekanan dari luar juga nggak kalah serius. Kondisi geopolitik global yang memanas bisa mendongkrak harga minyak dunia dalam sekejap. Imbasnya? Harga BBM dalam negeri ikut naik dan subsidi energi membengkak tanpa ampun.
"Dalam situasi global yang tidak menentu, Indonesia perlu langkah antisipatif untuk melindungi APBN," kata Abra menegaskan. Mendorong kendaraan listrik, dalam pandangannya, adalah salah satu instrumen strategis yang bisa dipakai.
Artikel Terkait
Angkringan: Ruang Tamu Bersama yang Menyimpan Ribuan Cerita
Konektivitas Transjakarta Hampir Sempurna, Tapi Penumpang Masih Sepi
Rotasi Pejabat Ekonomi: Momentum Perkuat Sinkronisasi Fiskal-Moneter
Pengacara Roy Suryo Kritik SP3 Kasus Fitnah Ijazah Jokowi: Dasar Hukum Dinilai Tak Jelas