Di sisi lain, tekanan dari Washington ini menempatkan Denmark dalam situasi sulit. Sebagai sekutu NATO, Denmark diingatkan oleh Perdana Menterinya sendiri, Mette Frederiksen, bahwa upaya paksa AS terhadap Greenland bisa merobek aliansi pertahanan yang telah terjalin puluhan tahun itu. Ancaman itu nyata dan menggantung.
Menariknya, AS sebenarnya sudah punya pijakan kuat di sana. Lebih dari seratus personel militernya ditempatkan secara permanen di Pangkalan Pituffik, di ujung barat laut Greenland. Fasilitas itu telah mereka operasikan sejak era Perang Dunia Kedua.
Berdasarkan perjanjian yang ada, AS punya hak untuk mendatangkan pasukan sebanyak apa pun ke Greenland. Tapi bagi Trump, itu rupanya belum cukup. Dalam briefing dengan wartawan di Washington pekan lalu, ia menyatakan bahwa sekadar sewa atau perjanjian saja tidak memadai. Ia menginginkan kepemilikan penuh.
Namun begitu, jawaban dari Nuuk, ibu kota Greenland, sudah final. Mereka memilih untuk tetap setia pada bendera yang selama ini melindungi mereka.
Artikel Terkait
KPK Tinjau Risiko Dua Proyek Strategis Pemerintah
Permata Bank dan JAL Gelar Pameran Perjalanan, Tiket ke Jepang Diskon hingga Rp14 Juta
Menlu Sugiono Peringatkan Dunia Masuki Ruang Abu-Abu yang Berbahaya
Kemenag Salurkan Rp1,25 Miliar untuk Rehab Masjid dan Lembaga Agama Terdampak Bencana