Jakarta - Pemerintah ternyata menarik dana lebih banyak ketimbang yang dibutuhkan untuk menutup defisit tahun lalu. Data terbaru Kementerian Keuangan menunjukkan, realisasi pembiayaan APBN 2025 tembus Rp744 triliun. Angka ini melampaui target awal yang 'cuma' Rp616,2 triliun.
Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono membeberkan rinciannya dalam konferensi pers APBN KiTa, Kamis (8/1).
"Pembiayaan APBN total realisasi 31 Desember Rp744 triliun," ujarnya.
Nah, karena defisit riilnya sendiri sebenarnya Rp695,1 triliun, otomatis ada kelebihan dana. Kelebihan ini yang disebut Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran atau SiLPA, besarnya Rp48,9 triliun. Menariknya, posisi ini lebih tinggi dibanding akhir 2024 yang Rp45,7 triliun.
Lalu, dari mana sumber dananya? Mayoritas, tentu saja, dari utang. Tapi menariknya, realisasi penarikan utang baru justru di bawah pagu. Tercatat Rp736,3 triliun, atau sekitar 94,9% dari target yang disiapkan. Di sisi lain, pembiayaan non-utang malah mencatatkan realisasi positif Rp7,7 triliun. Padahal, dalam asumsi APBN, pos ini awalnya diproyeksikan minus besar, lho.
Meski defisitnya melebar melewati batas UU APBN, pemerintah bilang strateginya tetap terukur. Tujuannya jelas: menjaga likuiditas agar program-program prioritas tidak mandek. Kelebihan pembiayaan tadi, menurut mereka, berfungsi sebagai bantalan fiskal yang penting di tengah ketidakpastian ekonomi awal tahun ini.
Singkatnya, kas negara dianggap masih aman. Ada buffer lumayan yang bisa dipakai untuk menghadapi gejolak di depan.
Artikel Terkait
Gratis Masuk Ancol 8–19 Juni 2026, Pengunjung Wajib Reservasi dan Tak Bisa Bawa Kendaraan
Warga Demak yang Sempat Dinyatakan Meninggal dan Hidup Kembali Akhirnya Meninggal Dunia
Trump Dukung Calon Konservatif Kolombia, Abelardo de la Espriella, di Putaran Kedua Pilpres
Kejagung Geledah Kantor Badan Gizi Nasional Usai Tiga Pimpinan Dicopot