Setiap tanggal 1 Januari, ada ritual sakral yang saya jalani. Tak ada kembang api atau terompet. Cukup duduk di depan laptop, menekan Control C lalu Control V. Sederhana, bukan?
Baru saja saya memindahkan daftar resolusi 2023 ke folder bertajuk 2026. Daftar itu sempat singgah di 2024 dan 2025, tanpa satu pun poin yang berhasil dicoret. Semuanya masih utuh dan orisinal, persis seperti saat pertama kali ditulis.
Isinya sih klise banget: target pencapaian, langkah-langkah muluk. Tapi kenyataannya, rencana itu membeku di file yang sama sejak zaman pandemi. Entah kenapa, saya terus melakukannya.
AI yang saya pakai untuk merapikan teks bahkan sampai memberi label "ambisius" pada saya. Mungkin itu cara halus si mesin bilang kalau saya cuma pemimpi besar, yang kerjanya cuma memindahkan teks dari tahun ke tahun.
Menurut sejumlah saksi, apa yang saya lakukan ini punya dasar ilmiah. Dalam psikologi, namanya False Hope Syndrome. Janet Polivy dari University of Toronto pernah menulis bahwa kita sering terjebak siklus menetapkan tujuan tidak realistis. Soalnya, "merencanakan" memberi kepuasan instan yang rasanya mirip dengan "melakukan".
Kita merasa hebat hanya dengan mengetik daftar rencana. Padahal, daftar itu tetap kesepian, tak pernah tersentuh.
Fenomena ini mengingatkan saya pada mitos Sisyphus yang dibahas Albert Camus. Sisyphus dihukum mendorong batu ke puncak gunung, hanya untuk melihatnya jatuh lagi. Bedanya, Sisyphus tak punya pilihan. Saya? Dengan sukarela mendorong rencana ini tiap tahun, lalu membiarkannya jatuh karena tergoda nonton video drakor.
Camus bilang, "Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia."
Mungkin saya juga bahagia. Bahagia dalam delusi bahwa tahun ini, di 2026, kursor saya akhirnya akan bergerak lebih lincah.
Kritik sosial yang paling pas buat saya datang dari Byung-Chul Han lewat bukunya The Burnout Society. Dia bilang kita hidup di masa di mana kita menindas diri sendiri dengan kata "bisa". Harus produktif, harus punya karya, harus ambisius.
Pada akhirnya, resolusi yang saya copy-paste itu adalah bentuk pemberontakan pasif. Saya ingin sukses, tapi mental saya lebih memilih rebahan sambil membayangkan kesuksesan itu.
Ada juga istilah Jepang yang akrab: Tsundoku. Biasanya untuk tumpukan buku yang dibeli tapi tak dibaca. Bagi saya, Tsundoku adalah tumpukan folder di cloud storage berisi ide-ide yang cuma saya timbun.
Saya beli banyak buku referensi. Tapi ujung-ujungnya cuma jadi dekorasi estetik. Seperti kata Walter Benjamin, buku bagi kolektor sering kehilangan fungsi aslinya, cuma jadi objek kepemilikan. Resolusi saya pun begitu; cuma untuk dimiliki, bukan dilakukan.
Ini bukan cuma kegagalan saya. Statistik dari Statistic Brain Research Institute menunjukkan cuma sekitar 8-9% orang yang benar-benar mencapai resolusi mereka. Secara matematis, saya adalah mayoritas. Saya rakyat yang konsisten dalam kegagalan.
Artikel Terkait
Sekutu Trump Ancam Bunuh Khamenei di Tengah Gelombang Demo Iran
Suzuki Pastikan Suku Cadang Baleno Tetap Tersedia Meski Sudah Pensiun
Raja Ampat Pasang Tarif Masuk Baru: Rp 1 Juta untuk Turis Asing
Layanan Kesehatan di Wilayah Banjir Sumatera Mulai Bangkit, 87 RS Kembali Beroperasi