"Mana foto-foto dari Kosta Rika?" tanya keluarga lewat pesan singkat.
Saya kirimkan beberapa jepretan pemandangan.
"Loh, kok sama kayak di sini?" balas mereka.
Saya cuma bisa tersenyum. Waktu di sana sudah larut malam, sementara di Indonesia masih siang. Jaraknya jauh, tapi alamnya benar-benar mengingatkan pada rumah. Saya membalas, "Karena Kosta Rika juga di dekat khatulistiwa, iklimnya tropis dua musim, persis seperti Indonesia."
Mirip sekali, meski berada di sisi Bumi yang berlawanan. Saya merasa seperti berpindah ke versi lain Indonesia.
Perasaan itu makin kuat saat berbincang dengan seorang rekan dari AS di sebuah kebun kopi. Saya bilang sambil tertawa, "I came all the way here more than 20 thousand kilometers for over 30 hours just to see the views like those in my hometown."
Suatu kali, saat makan malam di sebuah restoran di lereng gunung dengan pemandangan lampu kota berkelap-kelip, seorang rekan spontan berkomentar, "Ini kayak Puncak Pass!"
Restoran itu bernama Mirador del Valle, salah satu spot terbaik untuk memandang Gunung Poás. Dan memang, mirador artinya tempat untuk melihat.
Sabuk Hijau yang Mengikat
Semua kemiripan ini bukan kebetulan. Selain geologi, posisi geografis memegang peran kunci. Indonesia dilintasi garis khatulistiwa, sementara Kosta Rika berada sedikit di atasnya. Posisi di sabuk tropis ini membuat keduanya mendapat sinar matahari konsisten sepanjang tahun. Siang dan malam hampir sama panjangnya. Curah hujannya pun tinggi.
Kombinasi matahari dan hujan inilah yang menumbuhkan hutan hujan tropis yang lebat. Indonesia punya yang terbesar ketiga di dunia. Kosta Rika, meski kecil, juga punya hutan hujan yang vital di beberapa wilayahnya.
Sayangnya, Indonesia menghadapi tantangan deforestasi yang besar. Dalam 40 tahun terakhir, jutaan hektare hutan hilang. Kosta Rika sendiri pernah di titik kritis pada 1980-an. Tapi mereka berbalik arah dengan konservasi ketat dan berhasil memulihkan tutupan hutannya. Mereka membuktikan, pembangunan ekonomi dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan.
Rumah Terakhir bagi yang Langka
Hutan hujan tropis adalah kantong keanekaragaman hayati. Kosta Rika menampung hampir 5% spesies global, sementara Indonesia sekitar 15–17%. Satwanya pun punya "kembaran".
Macaw merah yang jadi ikon Kosta Rika, misalnya, punya kemiripan dengan nuri merah atau kakaktua raja di Indonesia. Dulu, macaw merah hampir punah karena perburuan. Tapi melalui hukum yang tegas dan transformasi ekonomi masyarakat dari pemburu jadi pemandu wisata populasinya pulih. Kini, burung itu jadi simbol keberhasilan konservasi mereka.
Di Indonesia, upaya serupa dilakukan untuk elang jawa, tapi populasinya masih terancam karena siklus reproduksinya yang lambat.
Perbedaan pendekatan juga terlihat. Indonesia punya daftar panjang satwa dilindungi. Kosta Rika lebih fokus pada habitat. Dengan menetapkan 25% wilayahnya sebagai area konservasi, mereka secara otomatis melindungi semua spesies di dalamnya.
Melihat ke Cermin Bernama Kosta Rika
Langit Kosta Rika berwarna biru tajam dan jernih. Berbeda dengan biru pudar langit Jakarta yang kerap diselimuti polusi. Biru yang murni itu datang dari udara yang bersih, berkat kebijakan lingkungan yang serius.
Lebih dari 98% listrik mereka berasal dari sumber terbarukan. Mereka adalah pemimpin global dalam pemulihan hutan dan ekowisata. Penghargaan dari PBB dan Earthshot Prize mereka raih atas komitmen itu.
Mereka juga selalu menempati peringkat atas dalam Happy Planet Index, yang mengukur kesejahteraan manusia tanpa merusak Bumi. Semua itu selaras dengan filosofi hidup mereka: pura vida, hidup yang murni dan selaras dengan alam.
Kosta Rika mungkin kecil. Tapi dari sana, kita bisa belajar banyak. Bahwa melindungi alam bukanlah halangan untuk maju, melainkan fondasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Satgas Beri Peringatan Terakhir ke 20 Perusahaan Sawit dan Tambang Penunggak Denda
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026
Rizki Juniansyah Naik Jadi Kapten, 52 Medali SEA Games TNI Dibayar Kenaikan Pangkat
Pohon-Pohon Bercerita: Video Mapping Meriahkan Malam di Sesar Lembang