Bayangkan dua negara yang dipisahkan oleh belasan ribu kilometer samudra. Satu di Asia Tenggara, satu lagi di Amerika Tengah. Tapi alamnya, sungguh mirip. Keduanya terletak di Cincin Api Pasifik, jalur gunung berapi paling aktif di dunia. Iklimnya tropis, dengan matahari yang hampir selalu bersinar. Hutan hujannya lebat, dipenuhi satwa langka dan burung-burung berwarna cerah. Bahkan, keduanya dikenal sebagai penghasil biji kopi terbaik. Ya, itulah Indonesia dan Kosta Rika.
Secara ukuran, Kosta Rika jauh lebih kecil hanya sekitar 2,6% dari luas daratan Indonesia. Tapi dari segi geologi dan keanekaragaman hayati, kemiripannya tak terbantahkan. Alam Kosta Rika ibarat versi miniatur dari kekayaan Indonesia. Seperti saudara yang terpisah jauh, terbelah oleh 19.000 kilometer Samudra Pasifik.
Pagi di Kosta Rika terasa begitu cepat. Baru jam setengah tujuh, sinar matahari sudah menerobos kuat-kuat lewat jendela kamar hotel. Saya sampai harus mengangkat tangan untuk menahan silaunya. Rupanya, di sini matahari terbit lebih awal dibanding di Indonesia meski waktunya justru 13 jam di belakang WIB.
Saya buru-buru bersiap. Ada janji sarapan bersama rekan-rekan dari Indonesia jam 7.15. Kami menginap di Costa Rica Marriott Hotel Hacienda Belen, yang arsitekturnya mengingatkan pada perkebunan besar era kolonial Spanyol.
Begitu keluar kamar, saya langsung bingung. Arah ke restoran mana? Saya bukan orang yang pandai mengingat rute. Akhirnya, setelah melihat petunjuk arah di dinding, saya putuskan untuk turun ke lobi dan bertanya pada resepsionis.
"Excuse me, could you tell me which way the restaurant is?" tanya saya.
Dengan sigap, ia mengecek komputer. "We have two restaurants here. Your breakfast is served at Hacienda Kitchen just head down the stairs outside this lobby, and it's on your left."
Mudah juga. Di restoran, saya dengan cepat menemui teman-teman. Mereka duduk di teras luar, menghadap langsung ke barisan pegunungan.
Pemandangannya megah. Tapi jujur, pemandangan serupa sering saya lihat di Bogor, tempat saya tinggal. Di Bogor, ada Gunung Salak, Gede, dan Pangrango. Di sini, di San Antonio (banyak yang mengira ini San José), ternyata juga dikelilingi tiga gunung: Poás, Barva, dan Escazú. Wilayah ini bagian dari Lembah Tengah, jantungnya Kosta Rika.
Lembah Tengah selalu sejuk, seperti musim semi abadi. Kesuburan tanahnya datang dari gunung-gunung api yang mengelilinginya. Tak heran kota-kota besar dan sekitar 70% penduduk Kosta Rika berkumpul di sini. Dari teras Hacienda Kitchen, yang terhampar di depan kami adalah Cordillera Central, tulang punggung vulkanik negara ini. Dan yang paling sentral adalah Gunung Poás.
Lahir dari Lava di Cincin Api
Kisah tentang asal-usul gunung-gunung ini saya dengar dari sopir yang menjemput kami dari bandara. Katanya, dulu Amerika Tengah tak ada. Hanya lautan luas yang memisahkan Amerika Utara dan Selatan.
Tapi tumbukan lempeng tektonik di dasar laut memicu letusan gunung berapi bawah laut. Lambat laun, puncak-puncaknya muncul ke permukaan, membentuk daratan sempit yang akhirnya menyatukan dua benua besar itu. Itulah Amerika Tengah.
Cerita sang sopir ternyata benar. Para geolog punya penjelasan serupa. Sekitar 150 juta tahun lalu, subduksi antara Lempeng Cocos dan Lempeng Karibia mulai terjadi. Lempeng yang lebih berat menghunjam ke bawah, memanaskan material di perut bumi, dan mendorong magma naik. Aktivitas vulkanis inilah yang membentuk rangkaian gunung api, yang akhirnya menyembul sebagai pulau-pulau.
Prosesnya berlangsung jutaan tahun. Tekanan terus mendorong dasar laut ke atas, material vulkanis dan sedimen menumpuk. Hingga akhirnya, sekitar 3 juta tahun lalu, terbentuklah daratan sempit memanjang yang disebut Tanah Genting Panama. Kosta Rika ada di bagian utaranya.
Proses geologis yang dahsyat ini tak cuma menyatukan benua, tapi juga memisahkan dua perairan besar. Itu sebabnya jarak antara Samudra Pasifik dan Laut Karibia di Kosta Rika sangat dekat, cuma sekitar 120–200 kilometer. Dalam sehari, Anda bisa menyaksikan matahari terbit di satu pesisir, dan terbenam di pesisir seberangnya.
Indonesia juga terbentuk dari subduksi lempeng tektonik, tapi skalanya jauh lebih besar dan kompleks. Analoginya, kedua negara "dimasak" di atas kompor vulkanis yang berbeda ukuran. Hasilnya, satu berupa jembatan darat ramping, satunya lagi gugusan pulau raksasa. Tapi akar persamaannya jelas: sama-sama lahir dari Cincin Api Pasifik.
Hidup di Atas Kompor yang Aktif
Posisi di Cincin Api membawa konsekuensi sekaligus berkah. Salah satunya, bentang alam kedua negara didominasi pegunungan. Indonesia punya 127 gunung berapi, dengan 76 di antaranya sangat aktif. Kosta Rika, untuk ukurannya yang kecil, punya lebih dari 112 kerucut vulkanis. Lima di antaranya Poás, Irazú, Arenal, Turrialba, dan Rincón de la Vieja sangat aktif dan diawasi ketat.
Abu vulkanisnya menyuburkan tanah. Maka jadilah kedua negara ini agraris, dengan kopi sebagai salah satu primadonanya. Tapi hidup di atas zona subduksi juga berarti hidup dengan risiko. Gempa dan tsunami adalah ancaman nyata.
Di bawah Indonesia, tiga lempeng raksasa bertemu dan bergeser. Di bawah Kosta Rika, Lempeng Cocos menabrak Lempeng Karibia dengan kecepatan fantastis, sekitar 8–9 cm per tahun. Kecepatan inilah yang membuat gunung-gunung api di sana rapat dan kerap erupsi. Sepanjang 2023 saja, Gunung Rincón de la Vieja tercatat meletus 400 kali.
Hawa Indonesia di Belahan Bumi Lain
"Mana foto-foto dari Kosta Rika?" tanya keluarga lewat pesan singkat.
Saya kirimkan beberapa jepretan pemandangan.
"Loh, kok sama kayak di sini?" balas mereka.
Saya cuma bisa tersenyum. Waktu di sana sudah larut malam, sementara di Indonesia masih siang. Jaraknya jauh, tapi alamnya benar-benar mengingatkan pada rumah. Saya membalas, "Karena Kosta Rika juga di dekat khatulistiwa, iklimnya tropis dua musim, persis seperti Indonesia."
Mirip sekali, meski berada di sisi Bumi yang berlawanan. Saya merasa seperti berpindah ke versi lain Indonesia.
Perasaan itu makin kuat saat berbincang dengan seorang rekan dari AS di sebuah kebun kopi. Saya bilang sambil tertawa, "I came all the way here more than 20 thousand kilometers for over 30 hours just to see the views like those in my hometown."
Suatu kali, saat makan malam di sebuah restoran di lereng gunung dengan pemandangan lampu kota berkelap-kelip, seorang rekan spontan berkomentar, "Ini kayak Puncak Pass!"
Restoran itu bernama Mirador del Valle, salah satu spot terbaik untuk memandang Gunung Poás. Dan memang, mirador artinya tempat untuk melihat.
Sabuk Hijau yang Mengikat
Semua kemiripan ini bukan kebetulan. Selain geologi, posisi geografis memegang peran kunci. Indonesia dilintasi garis khatulistiwa, sementara Kosta Rika berada sedikit di atasnya. Posisi di sabuk tropis ini membuat keduanya mendapat sinar matahari konsisten sepanjang tahun. Siang dan malam hampir sama panjangnya. Curah hujannya pun tinggi.
Kombinasi matahari dan hujan inilah yang menumbuhkan hutan hujan tropis yang lebat. Indonesia punya yang terbesar ketiga di dunia. Kosta Rika, meski kecil, juga punya hutan hujan yang vital di beberapa wilayahnya.
Sayangnya, Indonesia menghadapi tantangan deforestasi yang besar. Dalam 40 tahun terakhir, jutaan hektare hutan hilang. Kosta Rika sendiri pernah di titik kritis pada 1980-an. Tapi mereka berbalik arah dengan konservasi ketat dan berhasil memulihkan tutupan hutannya. Mereka membuktikan, pembangunan ekonomi dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan.
Rumah Terakhir bagi yang Langka
Hutan hujan tropis adalah kantong keanekaragaman hayati. Kosta Rika menampung hampir 5% spesies global, sementara Indonesia sekitar 15–17%. Satwanya pun punya "kembaran".
Macaw merah yang jadi ikon Kosta Rika, misalnya, punya kemiripan dengan nuri merah atau kakaktua raja di Indonesia. Dulu, macaw merah hampir punah karena perburuan. Tapi melalui hukum yang tegas dan transformasi ekonomi masyarakat dari pemburu jadi pemandu wisata populasinya pulih. Kini, burung itu jadi simbol keberhasilan konservasi mereka.
Di Indonesia, upaya serupa dilakukan untuk elang jawa, tapi populasinya masih terancam karena siklus reproduksinya yang lambat.
Perbedaan pendekatan juga terlihat. Indonesia punya daftar panjang satwa dilindungi. Kosta Rika lebih fokus pada habitat. Dengan menetapkan 25% wilayahnya sebagai area konservasi, mereka secara otomatis melindungi semua spesies di dalamnya.
Melihat ke Cermin Bernama Kosta Rika
Langit Kosta Rika berwarna biru tajam dan jernih. Berbeda dengan biru pudar langit Jakarta yang kerap diselimuti polusi. Biru yang murni itu datang dari udara yang bersih, berkat kebijakan lingkungan yang serius.
Lebih dari 98% listrik mereka berasal dari sumber terbarukan. Mereka adalah pemimpin global dalam pemulihan hutan dan ekowisata. Penghargaan dari PBB dan Earthshot Prize mereka raih atas komitmen itu.
Mereka juga selalu menempati peringkat atas dalam Happy Planet Index, yang mengukur kesejahteraan manusia tanpa merusak Bumi. Semua itu selaras dengan filosofi hidup mereka: pura vida, hidup yang murni dan selaras dengan alam.
Kosta Rika mungkin kecil. Tapi dari sana, kita bisa belajar banyak. Bahwa melindungi alam bukanlah halangan untuk maju, melainkan fondasi untuk membangun kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Pengamat Peringatkan Risiko Defisit dan Pelemahan Rupiah dari Impor Minyak AS
Ahli Gizi Ungkap Peran Minyak Zaitun Tingkatkan Penyerapan Nutrisi
Jadwal Imsak dan Salat di Jakarta untuk 7 Ramadhan 1447 H
Proyek Tanggul Raksasa Pantura Diperkirakan Tembus Rp1.684 Triliun