Novel Indonesia: Ketika Kritik Politik Bersembunyi di Balik Kisah Fiksi

- Selasa, 06 Januari 2026 | 00:06 WIB
Novel Indonesia: Ketika Kritik Politik Bersembunyi di Balik Kisah Fiksi

Novel itu bukan cuma cerita pengantar tidur. Lebih dari itu, ia adalah cermin yang dipegang pengarang terhadap zamannya. Di Indonesia, karya-karya ini sering jadi medium untuk mengungkap realitas sosial, relasi kuasa, dan berbagai ketimpangan yang terjadi. Lewat alur dan karakter yang dibangun, kritik terhadap politik bisa disampaikan tanpa harus terasa kaku atau seperti membaca manifesto.

Kalau kita telisik lebih jauh, novel sebenarnya adalah hasil dialog antara penulis dengan lingkungan sosialnya. Narasi yang muncul sering bersumber dari pengalaman kolektif, yang kemudian diramu jadi kisah fiksi penuh makna. Makanya, nggak heran kalau novel bisa dilihat sebagai dokumen kultural sebuah rekaman sekaligus tafsiran atas kondisi politik suatu masa.

Di sisi lain, peran sosial novel sebagai alat kritik memang cukup kuat. Seperti yang diungkap Anggraini dan Falah (2020), kritik terhadap praktik kekuasaan dalam novel jarang disampaikan secara gamblang. Biasanya, ia muncul lewat konflik antar tokoh, alur cerita, atau simbol-simbol naratif yang mewakili ketidakadilan. Pendekatan halus semacam ini justru sering punya daya pengaruh yang lebih dalam bagi pembaca.

Dalam perkembangan sastra Indonesia belakangan, isu politik makin kerap muncul. Tema-tema seperti kekerasan negara, pelanggaran HAM, dominasi elite, sampai trauma sejarah dihadirkan lewat kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya. Politik di sini nggak hadir sebagai pidato atau kebijakan mentereng, tapi sebagai pengalaman konkret yang menghantam individu.

Ambil contoh Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.

Novel ini menyelami realitas politik Indonesia melalui kisah aktivis mahasiswa yang diculik dan menjadi korban kekerasan aparat. Kritiknya tersirat dari penderitaan tokoh, trauma keluarga, dan ingatan kolektif yang terus menghantui. Negara digambarkan sebagai kekuasaan represif, sementara individu terjepit dalam strukturnya.


Halaman:

Komentar