Di sisi lain, beban psikologis dari proyek yang terbengkalai selama dua dekade ini ternyata cukup berat. Pramono sendiri mengaku kerap terbawa mimpi buruk dan susah tidur nyenyak memikirkannya. Baginya, tiang-tiang besi di Rasuna Said dan Asia Afrika itu adalah pengingat kegagalan yang terus menerus menatap warga kota.
"Saya bilang kepada Balai Kota, saya yang begini-begini membuat saya tidur nggak nyenyak, mimpi saya tentang monorel," kenangnya dalam suatu kesempatan di akhir Oktober lalu.
Untungnya, dia tak sendirian. Dukungan dari aparat penegak hukum menjadi angin segar untuk memuluskan niatnya. "Maka saya ingin selesaikan. Alhamdulillah atas dukungan aparat penegak hukum, terutama Kejati Jakarta, KPK," tambahnya dengan nada lega.
Kini, tinggal menunggu waktu. Jika tak ada aral melintang, awal tahun depan Jakarta akan mulai melupakan salah satu 'monumen' kebuntuan proyeknya yang paling terkenal.
Artikel Terkait
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026
Rizki Juniansyah Naik Jadi Kapten, 52 Medali SEA Games TNI Dibayar Kenaikan Pangkat
Pohon-Pohon Bercerita: Video Mapping Meriahkan Malam di Sesar Lembang
MNC Life dan BPD DIY Kolaborasi, Asuransi Jiwa Kredit untuk Pinjaman Personal