Tak cuma Airlangga, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga berkomentar. Responsnya lebih tajam. Dia menyoroti aksi AS yang menyerang dan menangkap presiden negara berdaulat, seolah bisa lepas dari pengawasan PBB.
"Hukum dunia agak aneh sekarang. Jadi kalau kita lihat negara bisa nyerang negara lain yang berdaulat, dan seperti bisa gate away dari pengawasan PBB. Jadi PBB-nya lemah sekarang," kata Purbaya, dengan nada prihatin.
Tapi, kalau bicara dampak ekonomi buat Indonesia, Purbaya menilai sangat terbatas. Titik tekan utamanya cuma satu: harga minyak. Kekhawatiran suplai bakal berkurang ternyata tak terbukti. Pasalnya, produksi minyak dunia belakangan ini cuma bertumpu pada sedikit negara. Amerika sendiri dikatakannya sudah mengizinkan eksplorasi di Alaska, jadi pasokan tetap aman.
"Mungkin mereka pikir akan turun suplainya tapi Amerika sudah izinkan…Alaska jadi enggak ngaruh ke suplai. Ke depan kalau dijalankan peningkatan produksinya, akan bagus juga untuk harga minyak dan suplai minyak dunia," ujar dia.
Yang menarik, pasar justru merespons positif. Indeks saham malah naik. Purbaya mengaku agak heran dengan reaksi ini. Tapi begitulah pasar. "Dari sisi ekonomi agak jauh, kalau dilihat dari pasar saham kan malah naik? Mereka lihat di situ positif, agak aneh sebetulnya, intinya lihat pasar saja," pungkasnya.
Jadi, untuk saat ini, pemerintah memilih bersikap waspada. Mereka mengawasi dari pinggir lapangan, sambil menunggu arah angin perubahan global berikutnya.
Artikel Terkait
Target 82,9 Juta Penerima: Program Makan Bergizi Gratis Pacu Kualitas Jelang 2026
Rizki Juniansyah Naik Jadi Kapten, 52 Medali SEA Games TNI Dibayar Kenaikan Pangkat
Pohon-Pohon Bercerita: Video Mapping Meriahkan Malam di Sesar Lembang
MNC Life dan BPD DIY Kolaborasi, Asuransi Jiwa Kredit untuk Pinjaman Personal