Bambu Indonesia: Peringkat Ketiga Dunia, Tapi Masih Terseok di Lini Produksi

- Minggu, 04 Januari 2026 | 23:15 WIB
Bambu Indonesia: Peringkat Ketiga Dunia, Tapi Masih Terseok di Lini Produksi

Indonesia punya kekayaan bambu yang luar biasa. Tercatat lebih dari 125 jenis tumbuh subur di berbagai penjuru negeri. Fakta ini menempatkan kita di posisi ketiga dunia untuk sumber bahan baku bambu terbesar secara global. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Minggu lalu.

“Potensi tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan sumber bahan baku bambu terbesar secara global,” ujarnya.

Namun begitu, ada masalah yang menggelayuti. Pemanfaatannya di dalam negeri masih berkutat pada metode konvensional. Alhasil, nilai tambah yang dihasilkan pun belum optimal. Kemenperin sendiri melihat peluang besar di sektor hilir. Mereka mendorong bambu tak hanya untuk kerajinan, tapi juga jadi bahan baku konstruksi, furnitur, bahkan pangan fungsional yang punya nilai jual tinggi.

Agus menambahkan, material ini punya sifat mekanis yang mengagumkan. Kuat, lentur, dan mudah dibentuk.

“Bahkan, bambu sangat direkomendasikan untuk wilayah rawan gempa karena lebih tahan terhadap guncangan dibanding material konvensional,” katanya.

Sebenarnya, upaya serius menggarap bambu sudah dimulai sejak 2022 lewat Peraturan Presiden tentang Strategi Nasional Bambu. Kini, Kemenperin sedang menyusun peta jalan untuk membangun ekosistem industri yang terintegrasi, dari hulu ke hilir. Rencananya cukup komprehensif, mulai dari penguatan agroforestry, sentra bambu, sampai yang menarik: mendirikan Akademi Komunitas Bambu dan pusat logistik untuk jamin pasokan bahan baku.

Peluang pasarnya ternyata sangat cerah. Putu Juli Ardika, Pelaksana Tugas Dirjen Industri Agro Kemenperin, menyoroti permintaan global yang terus naik untuk produk bernilai tambah. Di sektor kerajinan, furnitur, hingga konstruksi, prospeknya bagus.


Halaman:

Komentar