Karakas Berduka: Serangan AS Tewaskan Puluhan, Nasib Maduro Masih Gelap

- Minggu, 04 Januari 2026 | 07:05 WIB
Karakas Berduka: Serangan AS Tewaskan Puluhan, Nasib Maduro Masih Gelap
Laporan dari Karakas

Duka di Venezuela Usai Serangan Militer AS

Korban jiwa berjatuhan. Menurut laporan The New York Times yang mengutip sumber pejabat tinggi Venezuela, serangan yang dilancarkan Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) itu menewaskan sedikitnya 40 orang. Mereka adalah gabungan dari personel militer dan warga sipil biasa yang tak tahu apa-apa.

Sebelum kabar dari Times beredar, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez sudah lebih dulu bersuara. Ia dengan tegas menyebut serangan AS telah merenggut nyawa pejabat pemerintah, tentara, dan rakyat sipil.

Di tengah kekacauan itu, Presiden Donald Trump membuat pernyataan yang menggemparkan. Tak lama setelah operasi militer AS mengguncang Ibu Kota Karakas, Trump mengklaim bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, telah berhasil ditangkap dan dibawa keluar dari negara itu.

Namun begitu, otoritas Venezuela di tempat sama sekali membantah mengetahui keberadaan pemimpin mereka. Mereka justru menuntut konfirmasi jelas bahwa Maduro masih hidup. Tanggapan Trump? Ia malah menerbitkan sebuah foto yang kontroversial.

Foto itu menunjukkan Maduro di atas sebuah kapal perang AS. Matanya tertutup. Gambar itu seketika memicu lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Menurut informasi yang beredar, Maduro rencananya akan didakwa di pengadilan Amerika Serikat. Tuduhannya berkisar pada kejahatan narkoba dan senjata. Tapi, benarkah semua ini legal?

Di sisi lain, di Washington sendiri, sejumlah anggota Kongres AS bersuara lantang. Mereka menyebut operasi militer ini sebagai pelanggaran hukum. Ada kegelisahan yang nyata di antara para pembuat kebijakan di sana.

Tak tinggal diam, Kementerian Luar Negeri Venezuela pun bergerak cepat. Mereka mengumumkan rencana untuk membawa Amerika Serikat ke meja hijau organisasi internasional. Desakan juga dilayangkan agar Dewan Keamanan PBB segera menggelar pertemuan darurat. Situasinya masih panas, dan langkah-langkah diplomatik berikutnya akan sangat menentukan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar