“Regulasi akan menjadi masalah besar, kita berurusan dengan nyawa manusia,”
kata Dan Ives, analis Wedbush Securities yang dikenal sebagai pendukung Tesla. Meski mengakui tantangan, Ives percaya layanan otonom Tesla akan bisa mengatasi rintangan.
Memang, jalan menuju sana tak mulus. Tesla harus berhadapan dengan Waymo yang sudah lebih dulu matang di bisnis taksi otonom. Juga dengan berbagai penyelidikan keselamatan dan tantangan regulasi, termasuk risiko lisensi di California.
Tapi Musk tak gentar. Dia berjanji pembaruan perangkat lunak akan memungkinkan ratusan ribu Tesla berkendara otonom penuh tahun ini. Bahkan, produksi Cybercab tanpa setir atau pedal direncanakan dimulai tahun depan.
Agar Musk tetap fokus, dewan direksi memberinya paket kompensasi baru yang sangat besar pada November lalu. Belum lagi kemenangan hukum di Mahkamah Agung Delaware yang mengembalikan paket gajinya senilai USD55 miliar. Dan kabarnya, dia bisa jadi triliuner pertama dunia jika SpaceX go public tahun ini.
Jadi, meski mahkota produsen EV terlaris sudah hilang, pertaruhan sesungguhnya justru baru dimulai. Tesla bukan lagi sekadar perusahaan mobil. Ia sedang berusaha menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Dan pasar, untuk saat ini, memilih untuk percaya pada mimpi itu.
Artikel Terkait
Rp6 Triliun untuk IKN 2026: Basuki Ingatkan Amanah dan Integritas Pengelolaan Anggaran
Agak Laen 2 Pecahkan Rekor, Sentuh 10 Juta Penonton dalam 37 Hari
Arus Balik Jabotabek Tembus 2,3 Juta Kendaraan di Awal 2026
Toyoda Kembali ke F1: Gazoo Racing Resmi Genggam Haas Mulai 2026