Gelar itu akhirnya lepas juga. Setelah bertahun-tahun mendominasi, Tesla resmi tak lagi menjadi produsen kendaraan listrik terlaris di dunia per Jumat lalu. Posisi puncak itu kini direbut BYD dari China, yang tahun lalu berhasil menjual 2,26 juta unit jauh melampaui angka Tesla.
Bagi perusahaan yang dulu tampak tak terbendung, ini adalah kenyataan pahit. Penjualan mereka anjlok 9 persen pada 2025, menjadi hanya 1,64 juta kendaraan. Padahal, Tesla-lah yang dulu mengubah peta industri otomotif dan mengantarkan Elon Musk ke puncak daftar orang terkaya.
Lantas, apa penyebabnya? Faktornya kompleks. Di AS, insentif pajak sebesar USD7.500 untuk pembeli EV dicabut pemerintahan Trump akhir September lalu. Itu langsung memukul penjualan. Persaingan global, terutama dari pabrikan China yang agresif, juga makin ketat.
Yang menarik, penurunan ini terjadi meski ada dukungan publik dari Presiden Donald Trump awal tahun lalu. Dia bahkan menggelar konferensi pers di depan Gedung Putih dengan barisan Tesla, memuji Musk sebagai "patriot", dan mengumumkan akan membeli satu unit. Langkah yang tak biasa bagi seorang presiden.
Namun begitu, dukungan simbolis itu ternyata tak cukup. Pada kuartal keempat, penjualan Tesla cuma 418.227 unit jauh di bawah perkiraan analis sekalipun. Sahamnya pun ikut tertekan, turun 2,6 persen di hari pengumuman.
Di tengah semua berita buruk ini, ada hal yang mencengangkan: saham Tesla justre naik sekitar 11 persen sepanjang 2025. Kok bisa? Ternyata, investor lebih memilih fokus pada cerita masa depan yang diceritakan Musk, bukan angka penjualan mobil hari ini.
Musk sendiri sudah lama mengalihkan narasi. Menurutnya, masa depan Tesla bukan lagi sekadar jualan mobil, melainkan pada layanan robotaxi, bisnis penyimpanan energi, dan robot humanoid. Ambisi itulah yang dipertaruhkan.
“Regulasi akan menjadi masalah besar, kita berurusan dengan nyawa manusia,”
kata Dan Ives, analis Wedbush Securities yang dikenal sebagai pendukung Tesla. Meski mengakui tantangan, Ives percaya layanan otonom Tesla akan bisa mengatasi rintangan.
Memang, jalan menuju sana tak mulus. Tesla harus berhadapan dengan Waymo yang sudah lebih dulu matang di bisnis taksi otonom. Juga dengan berbagai penyelidikan keselamatan dan tantangan regulasi, termasuk risiko lisensi di California.
Tapi Musk tak gentar. Dia berjanji pembaruan perangkat lunak akan memungkinkan ratusan ribu Tesla berkendara otonom penuh tahun ini. Bahkan, produksi Cybercab tanpa setir atau pedal direncanakan dimulai tahun depan.
Agar Musk tetap fokus, dewan direksi memberinya paket kompensasi baru yang sangat besar pada November lalu. Belum lagi kemenangan hukum di Mahkamah Agung Delaware yang mengembalikan paket gajinya senilai USD55 miliar. Dan kabarnya, dia bisa jadi triliuner pertama dunia jika SpaceX go public tahun ini.
Jadi, meski mahkota produsen EV terlaris sudah hilang, pertaruhan sesungguhnya justru baru dimulai. Tesla bukan lagi sekadar perusahaan mobil. Ia sedang berusaha menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Dan pasar, untuk saat ini, memilih untuk percaya pada mimpi itu.
Artikel Terkait
TMII Ramai Dikunjungi Wisatawan Saat Festival Pecinan di Libur Imlek
Sidang Isbat 17 Februari 2026 Tetapkan Awal Ramadan 1447 H
Perminas dan Mitra UEA Kembangkan Rantai Pasok Mineral Kritis dari Gabon
WIZ Bone Siapkan 1.000 Paket Sembako untuk Pekerja Harian Jelang Ramadan