Pabrik Eropa Lesu, Asia Bangkit Diterjang Gelombang AI

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 02:40 WIB
Pabrik Eropa Lesu, Asia Bangkit Diterjang Gelombang AI

Menutup tahun 2025, peta aktivitas pabrik dunia tampak terbelah. Di satu sisi, zona euro justru semakin terpuruk. Di sisi lain, Asia justru menunjukkan ketahanan yang cukup solid, didorong oleh angin segar dari permintaan ekspor dan euforia teknologi kecerdasan buatan.

Data terbaru yang dirilis Jumat (2/1/2026) mencatat, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur zona euro anjlok ke 48,8 pada Desember. Angka itu turun dari 49,6 di bulan sebelumnya dan jadi level terendah dalam sembilan bulan terakhir. Intinya, aktivitas pabrik di kawasan itu makin dalam masuk wilayah kontraksi. Produksi bahkan turun untuk pertama kalinya dalam sepuluh bulan, imbas dari pesanan baru yang terus melemah.

Pelemahan ini terjadi hampir merata di 20 negara anggota. Jerman, raksasa ekonomi kawasan, mencatat kinerja paling suram dengan PMI terendah dalam 10 bulan. Italia dan Spanyol pun kembali terperosok ke zona merah. Namun begitu, ada sedikit cahaya dari Prancis. Negeri Mode itu justru mencatat PMI manufaktur tertinggi dalam 42 bulan, sebuah pengecualian yang cukup mencolok.

Cyrus de la Rubia, Kepala Ekonom Hamburg Commercial Bank, melihat situasi ini dengan pesimisme.

"Permintaan untuk produk manufaktur zona euro kembali lesu. Perusahaan-perusahaan terlihat enggan atau tak mampu membangun momentum untuk tahun depan. Mereka memilih bersikap sangat hati-hati, dan sikap seperti itu ibarat racun bagi perekonomian," ujarnya.

Ceritanya agak berbeda di Inggris. Meski sudah keluar dari Uni Eropa, aktivitas manufakturnya justru tumbuh pada laju tercepat dalam 15 bulan. Sentimen sedikit membaik setelah anggaran yang diajukan Menteri Keuangan Rachel Reeves memberi angin segar.

Sementara Eropa bergelut dengan kontraksi, Asia justru bernapas lega. Pusat-pusat manufaktur di benua itu menutup tahun dengan kondisi yang lebih baik. Korea Selatan dan Taiwan, misalnya, berhasil menghentikan tren penurunan yang berlangsung berbulan-bulan. PMI Taiwan melonjak ke 50,9 dari 48,8, sementara Korea Selatan menyentuh 50,1. Ini adalah ekspansi pertama mereka sejak September.

Kedua negara itu adalah raksasa produsen semikonduktor global. Tak heran jika mereka mendapat manfaat besar dari ledakan permintaan chip untuk teknologi AI.

Secara umum, aktivitas pabrik di Asia tetap tumbuh. Meski Indonesia dan Vietnam melaporkan ekspansi yang sedikit melambat, pertumbuhannya tetap ada. India, meski melambat ke laju terlemah dalam dua tahun, tetap mempertahankan posisinya sebagai yang terkuat di kawasan. Hasil ini sejalan dengan data PMI China yang dirilis Selasa lalu, yang menunjukkan pembalikan arah yang mengejutkan didorong lonjakan pesanan liburan.

Menurut sejumlah analis, lonjakan ekspor di beberapa bulan terakhir memberi alasan untuk optimis. Meski belum bisa disimpulkan apakah eksportir Asia sudah sepenuhnya kebal dari tarif AS, setidaknya permintaan global yang membaik memberi harapan untuk awal tahun baru.

"Ekspor dari sebagian besar negara melonjak akhir-akhir ini. Kami menilai prospek jangka pendek untuk sektor manufaktur Asia yang berorientasi ekspor tetap kondusif," kata Shivaan Tandon, Ekonom Asia di Capital Economics.

Berita bagus juga datang dari Singapura. Negeri Kota itu melaporkan pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 4,8%, meningkat dari 4,4% di tahun sebelumnya. Pertumbuhan kuartalannya pun melampaui perkiraan banyak pihak.

Kini, semua mata tertuju pada Jepang. S&P Global dijadwalkan merilis data PMI-nya pada Senin pekan depan, yang akan melengkapi gambaran akhir tahun dari kawasan Asia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar