Panganan sederhana ini telah menjadi simbol keramahan di negara dua benua ini. Ia melengkapi rasa kemanusiaan, bagai biji wijen yang ditaburkan di atas permukaannya.
‘Omoiyari’ di Jepang: Kepekaan yang Diterapkan
Pernah lihat seseorang menyodorkan sesuatu menggunakan kedua tangan? Itu etiket universal. Tapi bagi masyarakat Jepang, itu adalah bagian dari budaya Omoiyari yang mengajarkan penghormatan mendalam.
Omoiyari berasal dari kata ‘omoi’ (menghargai) dan ‘yari’ (menerapkan). Intinya adalah melakukan kebaikan secara altruistik, tanpa diminta. Contoh kecilnya bisa dilihat dari posisi duduk formal Seiza.
Duduk dengan kaki terlipat dan tangan tertelungkap di paha ini biasa dipakai dalam upacara minum teh atau ritual. Ini bukan cuma soal etiket. Posisi ini melatih kesadaran, kesabaran, dan kepekaan dalam membaca situasi sosial. Ibaratnya, seperti menyambut tamu di tahun baru (Oshogatsu) dengan penuh kehangatan dan perhatian.
Bercengkerama di ‘Burendag’, Hari Tetangga Belanda
“Goedemorgen, Hoe gaat het met u?”
Sapaan pagi yang ramah itu biasa terdengar di Belanda. Negeri ini tak cuma terkenal dengan kanal dan tata kotanya yang indah. Mereka punya tradisi toleransi yang mengagumkan, mungkin sebagai refleksi dari sejarah kolonial dan akulturasi mereka yang panjang.
Orang-orang dari Tiongkok, Maroko, Belgia, hingga Indonesia diterima dengan hangat. Semua seakan bisa duduk bersama menikmati keindahan bunga di taman Keukenhof.
Nah, puncak kebersamaan itu mungkin ada pada Burendag atau Hari Tetangga. Hari di mana orang-orang mengetuk pintu, bercengkerama, dan berbagi hidangan seperti sup kacang polong (erwtensoep).
Mereka berkumpul di satu meja panjang, di bawah tenda yang dihias bersama. Tua, muda, pendatang, semuanya merasakan hal yang sama. Merayakan ikatan kemanusiaan yang sederhana, di tengah hamparan ladang tulip yang sedang bermekaran.
Artikel Terkait
Kereta Panoramic KAI Cetak Rekor, Minat Wisata Kereta Api Melonjak 38,6%
Hari Pertama Kerja 2026, Kehadiran ASN DKI Jakarta Tembus 99 Persen
Geliat Industri Sumatera Terhenti, Kemenperin Siapkan Program Restarting
Bulog Siap Salurkan 720 Ribu Ton Beras untuk 18 Juta Keluarga pada 2026