Di Sumatera, bencana alam baru-baru ini meninggalkan bekas yang cukup dalam bagi sektor pertanian. Dari data awal yang berhasil dihimpun, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebutkan sekitar 70 ribu hektare lahan pertanian terdampak. Angka yang tidak kecil.
Yang lebih memprihatinkan, dari total luas itu, sekitar 11 ribu hektare di antaranya dinyatakan puso. Kerusakannya parah. "Lahan yang mengalami puso ini sudah tidak berbentuk sawah lagi," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/1/2026).
Kondisinya benar-benar rusak berat. Untuk mengatasinya, Kementan punya rencana. Mereka akan mengupayakan perbaikan lewat program cetak sawah. Tak cuma itu, penyediaan benih dan alat mesin pertanian juga akan disiapkan. Tujuannya satu: agar lahan-lahan itu bisa kembali menghijau dan produktif.
Menurut Sudaryono, pemulihan tak akan instan. Prosesnya akan bertahap, mengikuti ritme pembersihan dan rehabilitasi di wilayah bencana. Nah, untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, pendataan rinci rencananya baru akan dimulai awal Januari 2026 nanti.
Lalu, bagaimana dengan lahan yang terdampak tapi belum sampai gagal panen? Misalnya, cuma terendam banjir sementara atau akses distribusinya yang terputus. Untuk kasus seperti ini, Kementan janji akan turun tangan memberikan pendampingan. Harapannya, aktivitas produksi petani bisa kembali normal dengan cepat.
Artikel Terkait
Kawasaki W175 Kembali dengan Dua Wajah: Retro ABS dan Sentuhan Urban Street
Super Flu Subclade K Sudah Ada di 8 Provinsi, Mayoritas Serang Anak dan Perempuan
Polisi Selidiki Bom Molotov dan Teror Bangkai Ayam ke Rumah DJ Donny
Era Baru KUHP dan KUHAP Resmi Dimulai, Tantangan Implementasi Menanti