Sudah lebih dari delapan bulan transformasi dijalankan, dan menurut Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, hasilnya mulai terlihat. Namun, dia mengingatkan bahwa proses perubahan menyeluruh seperti ini butuh waktu dan konsistensi. "Harapannya, pada 2026-2027 nanti, BRI bisa 'take-off' dan larinya akan lebih kencang," ujar Hery dalam sebuah keterangan tertulis, Kamis lalu.
Optimisme itu yang membuatnya meminta seluruh stakeholder, terutama investor, untuk memandang saham BBRI sebagai investasi jangka menengah hingga panjang. Transformasi ini bukan perkara singkat. Menurut Hery, dibutuhkan setidaknya dua tahun untuk mencapai hasil yang optimal.
"Memang yang paling penting itu adalah mindset," tegasnya.
Budaya kerja yang kuat, menurutnya, akan mendorong kinerja perusahaan secara langsung. Perubahan yang dilakukan BRI sendiri jauh lebih dari sekadar urusan bisnis. Mereka menyentuh berbagai aspek pendukung, mulai dari operasional, teknologi, permodalan, hingga yang terbaru: penguatan merek.
Sebelumnya, tepatnya Juli 2025, BRI meluncurkan program transformasi bertajuk BRIVolution Reignite. Program ini dirancang untuk membawa bank plat merah itu ke fase pertumbuhan yang lebih efisien, berpusat pada nasabah, dan tentu saja, berkelanjutan.
Fokusnya beragam. Di sisi pendanaan, misalnya, BRI berupaya memperbaiki struktur dengan meningkatkan rasio dana murah. Tujuannya jelas, menekan biaya dana.
Di sisi lain, penyaluran kredit juga mendapat perhatian serius. Mereka terus memperbaiki segmen mikro, konsumen, UKM, dan komersial. Transformasi operasional pun berjalan, dengan fokus utama pada pembenahan dan peningkatan kualitas layanan kepada nasabah.
Tak ketinggalan, sumber daya manusia menjadi pilar penting. BRI memperbaiki kualitas data dan sistem, memperbarui manajemen talenta, serta menguatkan performa manajemen dengan menyempurnakan sistem penghargaan.
Langkah terbaru yang cukup mencolok adalah peluncuran Corporate Rebranding pada Selasa, 16 Desember 2025. Ini bukan sekadar ganti logo atau warna. Hery menegaskan, rebranding ini adalah bagian integral dari agenda transformasi besar-besaran mereka.
"Rebranding ini mencerminkan perubahan cara berpikir, cara bekerja," kata Hery.
Melalui langkah ini, BRI ingin menegaskan posisinya sebagai bank universal yang tetap berakar kuat pada UMKM dan ekonomi kerakyatan. Namun di saat bersamaan, mereka juga ingin dilihat adaptif terhadap percepatan digital dan dinamika kebutuhan nasabah yang terus berubah. Intinya, mereka ingin tetap relevan dan kompetitif dalam lanskap industri keuangan yang bergerak sangat cepat.
Jadi, inti pesannya jelas. BRI sedang dalam proses panjang. Mereka meminta semua pihak untuk melihat ke depan, karena hasil terbaik dari transformasi ini baru akan benar-benar terasa dalam beberapa tahun mendatang.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Beras Bulog untuk 215 Ribu Jamaah Haji 2026
Mentan Pastikan Stok Pangan di Wilayah Pascabencana Sumatera Aman Tiga Bulan ke Depan
Menag: 97% Rumah Ibadah dan 84% Madrasah di Daerah Banjir Sumatera Sudah Berfungsi Kembali
Persib Hadapi Misi Mustahil Balikkan Kekalahan 0-3 dari Ratchaburi di GBLA