“Uang itu saya kira sumbangan dari mendiang Raja Arab Saudi,” begitu kira-kira pembelaan Najib soal dana miliaran yang masuk ke rekening pribadinya di 2013.
Sayang, pengadilan tak membelinya. Hakim dengan tegas menolak klaim tersebut.
Skandal ini memang dahsyat dampaknya. Tak cuma meruntuhkan karir Najib, tapi juga mengubah peta politik Malaysia. Pada 2018, koalisi Barisan Nasional yang dipimpinnya tumbang kekalahan bersejarah setelah berpuluh tahun berkuasa. Gelombangnya sampai ke Hollywood dan melibatkan raksasa keuangan seperti Goldman Sachs.
Keluarga pun tak luput. Istri Najib, Rosmah Mansor, sudah dihukum 10 tahun penjara pada 2022 karena kasus suap. Dia kini bebas bersyarat sambil menunggu banding.
Kini, dengan vonis terbaru ini, keretakan di internal koalisi pemerintah Malaysia makin kentara. Partai Najib, UMNO, masih jadi bagian dari pemerintahan. Kegagalan permohonan tahanan rumahnya Senin lalu disambut kecewa oleh sekutu, tapi di sisi lain dirayakan diam-diam oleh lawan politik dalam koalisi yang sama.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim angkat bicara, menyerukan semua pihak menghormati keputusan hukum. Situasinya rumit, tegang, dan penuh nuansa. Satu hal yang pasti: drama hukum Najib Razak masih jauh dari kata akhir.
Artikel Terkait
Herdman Soroti Minim Kreativitas, Nantikan Miliano dan Marselino
Puspom TNI Ajukan Permintaan Resmi untuk Periksa Andrie Yunus di Bawah LPSK
Menteri ESDM Pastikan Stok BBM Nasional Aman, Proyeksi Surplus Solar dengan B50
Presiden Prabowo Berduka, Tiga Pasukan Perdamaian TNI Gugur di Lebanon Selatan