“Kerja sama ini telah menghasilkan serangan udara yang tepat sasaran terhadap target teroris di wilayah barat laut Nigeria,” bunyi pernyataan itu.
Di sisi lain, para pejabat Nigeria merasa tuduhan Trump beberapa waktu lalu yang menyebut Nigeria gagal melindungi umat Kristen terlalu menyederhanakan masalah. Mereka membantah keras. Kelompok teroris, menurut mereka, tidak pandang bulu. Komunitas Muslim justru sering menjadi korban dengan jumlah yang lebih besar. Tuduhan Trump dinilai mengabaikan upaya keras pemerintah dan kompleksitas situasi keamanan di lapangan.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyampaikan apresiasi atas dukungan Nigeria. Tapi nada peringatannya jelas. Militer AS, katanya, siap melancarkan serangan lanjutan yang lebih mematikan jika situasi mengharuskannya. Ancaman itu menggantung, menandai babak baru dalam kerja sama dan mungkin ketegangan antara kedua negara ini.
Operasi militer ini sendiri terjadi di tengah memanasnya hubungan setelah Trump melontarkan kritik pedas. Kini, meski kedua belah pihak tampak sepakat soal serangan tersebut, perbedaan persepsi tentang akar konflik dan korban masih terasa lebar.
Artikel Terkait
Arus Balik Lebaran 2026 Masih Padat, Kedatangan di Stasiun Jakarta Capai 52.896 Penumpang
KPK: 94 Ribu Pejabat Belum Lapor LHKPN, Batas Akhir 31 Maret 2026
Upaya Pencurian Motor Gagal di Kos Makassar Berkat Kehadiran Pemilik
Harga Bawang dan Beras Naik, Cabai Merah Turun Drastis di Pasar Tradisional