Bank Sentral Jepang Siapkan Suku Bunga Lebih Tinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir?

- Kamis, 25 Desember 2025 | 15:55 WIB
Bank Sentral Jepang Siapkan Suku Bunga Lebih Tinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir?

Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, memberikan sinyal kuat. Inflasi inti negara itu terus merangkak naik, mendekati target yang sudah lama diincar: 2 persen. Dengan kata lain, ruang untuk menaikkan suku bunga lagi masih terbuka lebar.

Pernyataan ini disampaikan Ueda di hadapan para pelaku bisnis di Keidanren, Kamis kemarin. Ia menegaskan, BOJ bakal terus menyesuaikan kebijakan moneternya seiring membaiknya kondisi ekonomi dan harga.

“Mengingat suku bunga riil masih di level yang sangat rendah, BOJ akan terus menaikkan suku bunga sesuai perbaikan ekonomi dan harga, jika skenario dasar kami terwujud,”

ujarnya. Ini bukan sekadar wacana. Pekan lalu, BOJ sudah bertindak dengan menaikkan suku bunga acuan ke 0,75 persen. Angka itu jadi yang tertinggi dalam tiga dekade terakhir, sekaligus penanda penting: era stimulus besar-besaran dan pinjaman murah yang berlangsung puluhan tahun perlahan tapi pasti akan berakhir.

Menurut Ueda, keputusan berani itu diambil karena risiko terhadap ekonomi Jepang dinilai sudah berkurang. Termasuk dampak dari kebijakan tarif Amerika Serikat. Di sisi lain, kondisi pasar tenaga kerja yang ketat diperkirakan bakal bertahan, asal tak ada guncangan besar. Ini artinya, tekanan untuk menaikkan upah akan terus ada, didorong juga oleh faktor struktural seperti populasi usia kerja yang menyusut.

Yang menarik, perubahan mulai terlihat di lapangan. Perusahaan-perusahaan di Jepang tak lagi hanya menaikkan harga di sektor makanan. Mereka mulai meneruskan kenaikan biaya tenaga kerja dan bahan baku ke harga berbagai barang dan jasa lainnya. Sebuah mekanisme dimana kenaikan upah dan inflasi saling menguatkan, tampaknya mulai terbentuk.

“Inflasi inti Jepang secara keseluruhan mengikuti tren kenaikan moderat, di tengah pasar tenaga kerja yang semakin ketat,” kata Ueda.

Ia menambahkan, perilaku perusahaan dalam menetapkan upah dan harga telah berubah signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Target inflasi 2 persen yang didampingi kenaikan upah, kini terasa semakin nyata.

Namun begitu, langkah BOJ ini tetap diwaspadai. Sebab, pernyataan Ueda pekan lalu sempat dinilai terlalu hati-hati oleh pasar, bahkan memicu pelemahan yen. Pelemahan mata uang tentu jadi perhatian serius, karena bisa mendongkrak biaya impor dan akhirnya membebani daya beli masyarakat.

Ke mana arahnya nanti? Banyak analis memprediksi BOJ akan menahan dulu suku bunga pada pertemuan akhir Januari mendatang. Meski begitu, pembaruan proyeksi pertumbuhan dan inflasi yang akan dirilis saat itu, bisa jadi petunjuk berharga untuk langkah bank sentral selanjutnya. Semuanya masih harus ditunggu.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar