Perlu dicatat, insiden di Plateau ini beda dengan konflik di timur laut Nigeria. Di sana, kelompok jihadis sudah belasan tahun berperang melawan pemerintah. Kasus penculikan peziarah ini lebih ke ranah kriminal biasa, bukan motif pemberontakan.
Di sisi lain, isu keamanan Nigeria memang sedang panas diperbincangkan dunia. Bulan November lalu, Presiden AS Donald Trump bahkan sempat mengancam akan kirim pasukan. Dia menuduh kelompok militan di Nigeria sengaja menargetkan orang Kristen.
Tuduhan itu dibantah keras pemerintah Nigeria. Mereka mengakui ada masalah keamanan serius, tapi menampik adanya penganiayaan khusus berdasarkan agama.
Menteri Informasi Mohammed Idris pada Senin (22/12) mencoba meredakan ketegangan. Menurutnya, masalah dengan AS soal isu keamanan dan dugaan penganiayaan Kristen sudah "sebagian besar terselesaikan". Alhasil, hubungan dengan Washington justru diklaim lebih kuat.
Idris juga menyebutkan rencana jangka panjang. Pemerintah akan kerahkan penjaga hutan yang terlatih dan dilengkapi senjata. Mereka ditugaskan mengamankan kawasan hutan dan daerah terpencil yang sering dijadikan sarang bandit. Langkah ini dimaksudkan untuk melengkapi operasi militer yang sudah berjalan.
Jadi, begitulah situasinya. Sementara upaya penyelamatan digenjot, keluarga korban menunggu dengan hati cemas. Dan Nigeria, sekali lagi, berhadapan dengan lingkaran kekerasan yang tak kunjung putus.
Artikel Terkait
Bapanas Perkuat Cadangan Pangan Antisipasi Godzilla El Nino 2026
Pemerintah Pertimbangkan Relaksasi Produksi Batu Bara dan Nikel Secara Terukur
Jasad Pria yang Dilaporkan Hilang Ditemukan Terkubur di Lahan Kosong Cikeas
Arus Balik Lebaran 2026: Kedatangan Penumpang di Stasiun Jakarta Capai 52.471 Orang