Bulan madu penjualan mobil listrik di Indonesia masih terasa manis. Insentif dari pemerintah terus mengalir, membuat produk-produk ini bebas masuk ke pasar dalam negeri. Namun begitu, ada angin perubahan yang mulai terasa di balik data penjualan yang menggembirakan itu.
Data Gaikindo untuk November menunjukkan angka yang cukup fantastis: 13.381 unit mobil listrik jenis BEV terjual secara wholesale. Bandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, yang hanya mencatat 5.532 unit. Lonjakannya signifikan.
Menurut Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dari ITB, kondisi ini tak akan berlangsung selamanya. Dalam dua atau tiga tahun ke depan, persaingan di segmen ini akan berubah total. Bukan lagi sekadar soal merek kuat, melainkan perlombaan komitmen jangka panjang.
“Selama ini ada yang masuk dengan model perusahaan cangkang, banting harga luar biasa karena menikmati insentif. Ke depan, model seperti itu tidak bisa lagi jalan,”
Ucap Yannes saat ditemui di Subang, Jawa Barat, awal pekan ini.
Memang, pasar BEV kita saat ini masih ditopang dua stimulus utama. Pertama, potongan PPN DTP sebesar 10 persen yang diatur dalam PMK No. 12/2025. Syaratnya, mobil harus sudah diproduksi lokal (CKD) dengan tingkat komponen dalam negeri minimal 40 persen.
Kemudian, ada juga insentif untuk mobil CBU yang didatangkan utuh. Kebijakan ini memberi ruang bagi pemain baru yang punya komitmen investasi, seperti membangun pabrik di sini. Sayangnya, semua regulasi pendukung ini akan berakhir pada 31 Desember 2025 nanti.
Yannes meyakini, situasi pasca-berakhirnya insentif akan menjadi penanda kondisi sesungguhnya. Hanya pelaku dengan rencana matang dan investasi nyata yang akan bertahan.
“Hanya yang punya komitmen investasi yang benar yang bisa jalan. Dia bangun pabrik, bangun industri parts komponen di sini dan itu sekarang sudah mulai dilakukan,”
paparnya.
Di sisi lain, tahun 2026 diprediksi akan jadi tahun yang menantang. Insentif khusus diprediksi hilang, daya beli masyarakat bisa melemah, persaingan harga makin ketat. Belum lagi syarat TKDN yang akan terus dinaikkan secara bertahap.
“Begitu TKDN-nya naik terus dari 40 ke 60, lalu 80 persen, yang setengah-setengah itu akan berat. Pada titik tertentu, mereka bisa lemas dan hilang dari pasar. Ini akan menjadi seleksi besar-besaran, yang hanya cangkang akan hilang dengan sendirinya,”
tambah Yannes.
Aturan TKDN ini sendiri sudah jelas peta jalannya. Diatur dalam Perpres 79/2023, untuk BEV lokal, targetnya adalah 40 persen hingga 2026. Lalu naik jadi 60 persen di periode 2027-2029, dan akhirnya mencapai 80 persen di tahun 2030. Target yang ambisius, sekaligus jadi tolok ukur kedewasaan industri.
Namun, Yannes mengingatkan satu hal penting. Semua rencana industri ini harus diimbangi dengan peningkatan daya beli masyarakat.
“Namun PR pertama kita tetap meningkatkan kelas menengah. Kalau middle income class naik, daya beli ikut naik... Baru belanja otomotif bisa lebih sehat,”
tandasnya. Persoalannya memang kompleks, dan jalan ke depan masih panjang.
Artikel Terkait
Batik Keris Solo Bertahan Seabad dengan Strategi Heritage dan Teknologi
Harga Pangan Pokok Turun Jelang Ramadan 2026
Indodana Gandeng Mister Aladin Tawarkan Diskon dan Cicilan 0% untuk Liburan
Indonesia Japan Koi Show 2026 Digelar, Koi Lokal Siap Bersaing dengan Kualitas Mumpuni