Melukat di Bali: Tren Spiritual yang Menyapu Jiwa di Era Modern

- Selasa, 23 Desember 2025 | 08:18 WIB
Melukat di Bali: Tren Spiritual yang Menyapu Jiwa di Era Modern

Citra Bali sebagai tempat untuk menyepi dan mencari ketenangan batin semakin menguat. Bukan cuma soal yoga atau duduk diam bermeditasi. Kini, ada satu ritual lagi yang masuk daftar wajib bagi pelancong yang ingin merasakan apa itu "pembersihan diri": melukat.

Ritual ini sedang naik daun, menarik minat banyak orang. Baik turis lokal maupun dari mancanegara berbondong-bondong mencobanya.

"Melukat saat ini memang sedang menjadi tren," ujar Aulianty Fellina Rizal, Senior Director of Marketing Communications & Public Relations Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort.

Perempuan yang akrab disapa Olie itu menambahkan, tak sedikit pesohor, artis, hingga selebgram yang sengaja terbang ke Bali hanya untuk menjalani prosesi ini. Menariknya, melukat sekarang bukan lagi sekadar pengalaman spiritual pribadi yang sunyi. Ritual itu telah berubah menjadi konten yang menarik untuk dibagikan di media sosial.

"Prosesi melukat dilakukan dengan harapan membersihkan segala hal yang bersifat kotor atau negatif, baik secara jasmani maupun rohani," imbuhnya.

Pada hakikatnya, melukat adalah upacara pembersihan pikiran dan jiwa dalam tradisi Hindu. Sudah dilakukan turun-temurun hingga sekarang. Ritualnya sendiri mencakup rangkaian doa, pemberkatan dari pemuka agama, dan tentu saja, pembasuhan dengan air suci. Tempatnya bisa di pura atau di spot-spot alam seperti air terjun yang sudah disucikan.

Mungkin itu jawabannya. Di era serba cepat ini, stres dan rasa jenuh ibarat penyakit yang menjangkiti banyak orang. Manusia modern terus mencari celah untuk bisa bernapas lega, menemukan lagi ketenangan yang hilang.

"Itu kenapa melukat jadi tren healing dan wisata spiritual," terang Olie.

Lihat saja media sosial. Foto-foto selebritas atau influencer berbalut kain putih, berdiri khidmat di bawah pancuran air, bertebaran di mana-mana. Narasi yang menyertainya pun beragam: ada yang bilang "menemukan kedamaian," ada yang merasa bisa "melepaskan trauma," atau bahkan bertekad untuk "memulai hidup baru." Semuanya menggambarkan satu hal: keinginan untuk menjadi lebih ringan, lebih bersih, setelahnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar