Baru Senin kemarin, Arif Satria, sang Kepala BRIN, sudah berdiri di depan media di Jakarta. Ia baru saja pulang dari Aceh Tamiang, dan ceritanya satu: soal air. Lebih tepatnya, tentang bagaimana air banjir yang keruh dan penuh lumpur bisa berubah jadi air minum yang ia teguk langsung di lokasi bencana.
Inovasinya bernama Arsinum. Teknologi buatan para periset BRIN ini, kata Arif, terbukti efektif saat diuji di wilayah yang dilanda banjir bandang. Masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih akhirnya terbantu.
"Saya baru semalam dari Aceh Tamiang. Apa yang kita lakukan, kita mengembangkan Arsinum yang kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat saudara-saudara kita yang sedang mengalami bencana," ujar Arif dalam Media Lounge Discussion di Gedung BJ Habibie BRIN.
Ia menekankan, alat itu berfungsi dengan baik. Yang tadinya cuma air kotor tak layak, bisa diolah hingga layak konsumsi.
"Air banjir yang bisa diubah menjadi air minum. Dan kemarin sudah berfungsi, saya langsung minum airnya. Dan masyarakat senang sekali," tuturnya.
Respons dari daerah pun positif. Pemerintah setempat melihat ini sebagai solusi riil yang langsung menyentuh kebutuhan warga. "Pemerintah daerah senang sekali, ini solusi, solusi dilakukan oleh BRIN. Itu produk yang nyata," katanya lagi.
Namun begitu, Arif tak berpuas diri. Ia mendorong agar riset terus berlanjut untuk menaikkan kapasitas produksi. Saat ini, Arsinum bisa menghasilkan sekitar 10.000 liter air minum per hari. Targetnya, angka itu harus bisa didobel.
"Nah sekarang saya minta riset lagi agar skalanya lebih gede lagi. Jangan 10.000 liter per hari, tapi bisa nggak 20.000 liter per hari supaya skala lebih besar lagi," tegasnya.
Perlu diingat, selain air minum, alat yang sama juga memproduksi air bersih dengan volume lebih besar. Kapasitasnya bisa mencapai 20.000 hingga 30.000 liter per hari. Jadi, manfaatnya berlapis.
Proses kerjanya sendiri terbilang gamblang. Air banjir berlumpur dimasukkan ke sistem, lalu keluar sebagai air bersih. Dari situ, diolah lagi satu tahap hingga benar-benar aman diminum.
"Jadi, air kotor itu, air banjir yang berlumpur itu masukin situ, keluar air bersih. Tapi belum air minum. Dari situ olah lagi air minum, bisa diminum," jelas Arif memaparkan cara kerjanya.
Cerita dari Aceh Tamiang ini jadi bukti nyata. Di tengah situasi darurat, inovasi ternyata bisa lahir dan langsung dirasakan dampaknya oleh mereka yang paling membutuhkan.
Artikel Terkait
ASEAN Catat 161 Ribu Kasus DBD pada 2025, Target Nol Kematian pada 2030
Menteri Perhubungan Umumkan Mudik Gratis Bus dan Kereta untuk Lebaran 2026
BPJS Kesehatan Kembali Aktifkan 106 Ribu Peserta Penderita Penyakit Berat
Badai Salju Jepang Tewaskan 46 Orang, 604 Luka-luka