Fenomena merata ini jelas menggambarkan satu hal: betapa vitalnya jalur udara untuk mempercepat penanganan bencana. Mobilitas pesawat yang mengangkut logistik, peralatan, dan personel teknis menjadikan avtur sebagai energi yang benar-benar krusial di fase darurat seperti sekarang.
Biasanya, AFT Sultan Iskandar Muda cuma beroperasi dari pukul 05.00 sampai 19.00 WIB. Tapi situasi darurat memaksa perubahan. Seluruh personel kini disiagakan 24 jam penuh, menyesuaikan dinamika kedatangan pesawat yang kadang tak bisa ditebak. Pelayanan seringkali diberikan hingga lewat tengah malam, bahkan sampai pukul 01.00 dini hari.
Yang penting, seluruh maskapai baik penerbangan reguler maupun misi kemanusiaan tetap dilayani dengan cepat, tepat, dan aman. Tujuannya satu: memastikan setiap misi bantuan bisa berjalan lancar tanpa kendala suplai energi.
Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, menegaskan hal ini. Penguatan layanan, katanya, adalah bentuk komitmen perusahaan untuk mendukung percepatan pemulihan.
“Avtur menjadi energi vital untuk mendukung mobilisasi bantuan serta distribusi logistik melalui jalur udara, khususnya ke wilayah yang sulit diakses dari darat,” tegas Fahrougi.
Upaya penguatan ini dilakukan tanpa mengganggu kebutuhan penerbangan reguler yang sudah ada. Meski operasional Pertamina sendiri tidak terdampak langsung oleh bencana, dukungan mereka terhadap misi kemanusiaan jadi prioritas utama. Semua demi memastikan upaya pemulihan di Aceh dan Sumatera berjalan cepat dan terkoordinasi dengan baik.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Dari Lintasan Balap ke Lapangan Hijau: Nadia, Bocah 12 Tahun yang Jadi Mesin Gol
Eńau dan Ari Lesmana Rangkul Duka dalam Sesi Potret
Kemkominfo Ungkap 110 Juta Anak RI di Dunia Maya, Pengawasan Orang Tua Jadi Kunci
ASEAN dan India Pacu Wisata Kapal Pesiar, Rute Baru dan Konektivitas Jadi Fokus