Namun begitu, sikapnya tampak berbeda saat berhadapan dengan Trump. Dalam acara pemberian penghargaan, Infantino memuji mantan presiden itu habis-habisan. Ia menyoroti peran Trump dalam Perjanjian Abraham, yang mendamaikan Israel dengan sejumlah negara Arab dan Muslim tentu saja, dengan mengesampingkan status Palestina.
"Inilah yang kami inginkan dari seorang pemimpin, seorang pemimpin yang peduli terhadap rakyat. Kita ingin hidup di dunia yang aman," kata Infantino dengan penuh semangat.
"Bapak Presiden, Anda benar-benar pantas menerima Hadiah Perdamaian FIFA pertama atas tindakan Anda, atas apa yang telah Anda peroleh dengan upaya Anda," tambahnya.
Trump sendiri, seperti diduga, menyambut penghargaan ini dengan sukacita. Ia menyebutnya sebagai salah satu penghormatan terbesar yang pernah diterimanya. Klaim-klaim lamanya pun diulang: bahwa masa kepresidenannya konon telah menyelamatkan jutaan nyawa dan mengakhiri delapan perang berbeda.
Jadi, di satu sisi ada pemain yang didenda karena menyuarakan hati nurani. Di sisi lain, ada pimpinan tertinggi sepak bola dunia yang dengan leluasa menjalin hubungan mesra dengan kekuasaan. Kontras yang sulit dijelaskan, dan semakin mengaburkan batas antara olahraga dan permainan politik.
Artikel Terkait
Mentan Zulhas Pastikan Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Ketahanan Pangan Nasional
Laba Bersih Bank Jago Melonjak 114% pada 2025, Didorong Pertumbuhan Nasabah
RUU Hak Cipta Usulkan Karya Jurnalistik Dilindungi Hak Eksklusif dan Royalti
Pemerintah Rencanakan Pagar Raksasa untuk Atasi Konflik Gajah-Manusia di Way Kambas