Paris bakal jadi ajang penting bagi rumput laut Indonesia tahun depan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tak main-main, mereka menargetkan transaksi hingga USD 8 juta, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp 132 miliar, di pameran Food Ingredients Europe (FIE) 2025. Target itu cukup ambisius, tapi mereka punya strateginya.
Machmud, selaku Plt Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), menjelaskan bahwa KKP akan membawa enam eksportir produk turunan rumput laut ke Paris. Mereka akan berkumpul di Paviliun Indonesia Seaweed.
"Kali ini kami memfasilitasi Paviliun Indonesia Seaweed yang diisi oleh enam eksportir produk turunan rumput laut,"
ujar Machmud dalam keterangan tertulisnya, Jumat lalu.
FIE sendiri bukan pameran sembarangan. Digelar di Paris Expo Porte de Versailles, ajang ini diakui sebagai yang terbesar di dunia untuk industri bahan tambahan makanan. Di sinilah para pelaku industri makanan dan minuman global bertemu. Mulai dari tim riset dan pengembangan, hingga produsen aditif pangan. Nah, di tengah keramaian itu, produk turunan rumput laut Indonesia akan unjuk gigi.
Menurut Machmud, keikutsertaan ini bukan sekadar numpang nama. Ini adalah penegasan bahwa 'emas hijau' Indonesia punya daya saing kuat di pasar global. Rumput laut kita bisa diolah jadi banyak hal, lho. Karaginan dan agar-agar cuma dua contohnya. Produk turunannya dipakai sebagai bahan baku atau tambahan alami yang dicari banyak industri.
"Untuk industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik, dan sektor lainnya,"
tambahnya.
Optimisme KKP ini punya dasar yang kuat. Lihat saja kinerja ekspor sepanjang Januari-Oktober 2025. Nilainya sudah mencapai USD 264,6 juta! Rinciannya, rumput laut kering menyumbang USD 144,7 juta, karaginan USD 93,3 juta, dan agar-agar USD 15,6 juta.
China masih mendominasi sebagai pasar terbesar dengan nilai fantastis: USD 183,6 juta atau 69,4% dari total ekspor kita. Namun begitu, peran Uni Eropa tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah pasar terbesar kedua dengan kontribusi lebih dari 10%, tepatnya USD 27,3 juta.
"Dengan kontribusi lebih dari 10 persen, Uni Eropa tercatat sebagai pasar terbesar kedua di dunia untuk rumput laut Indonesia,"
tegas Machmud.
Jika dilihat per produk, posisi Uni Eropa bahkan lebih strategis. Mereka adalah pasar utama untuk agar-agar Indonesia (USD 4 juta) dan tujuan kedua terbesar untuk karaginan (USD 20,3 juta). Sementara untuk rumput laut kering, China masih raja dengan nilai USD 138,2 juta, diikuti Korea Selatan dan negara-negara ASEAN.
Dengan peta pasar seperti ini, wajar jika KKP matanya tertuju ke Paris. Pameran FIE 2025 bukan cuma soal mengejar target transaksi semata, tapi juga memperkuat posisi di pasar Eropa yang sudah ada dan membuka peluang-peluang baru. Semua mata kini tertuju pada 'emas hijau' yang akan berlayar ke Prancis.
Artikel Terkait
Pria 31 Tahun Didakwa Percobaan Pembunuhan Donald Trump Usai Tembaki Jamuan Makan Malam
DPR Apresiasi Program Kampung Internet Komdigi yang Tembus 1.282 Titik Akses di Seluruh Indonesia
Razman Sebut Jokowi Risih Kasus Roy Suryo Belum P21, Khawatir Dikesan Memberi Keringanan Hukum
Duka Keluarga Korban Tabrakan Kereta di Bekasi, Seorang Guru SD Teridentifikasi