Ribuan Alat Kerja dan Bantuan Logistik Dikirim Polri untuk Korban Bencana Sumatera

- Jumat, 05 Desember 2025 | 20:25 WIB
Ribuan Alat Kerja dan Bantuan Logistik Dikirim Polri untuk Korban Bencana Sumatera

Ribuan alat kerja dikirimkan Polri untuk daerah-daerah yang porak-poranda diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Bantuan ini menyasar tiga provinsi di Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Operasi kemanusiaan berskala besar ini digelar untuk mempercepat pemulihan.

Menurut Karo Ops Polda Riau, Kombes Ino Harianto, pengiriman ini adalah bagian dari komitmen berkelanjutan. "Ketika saudara-saudara kita tertimpa musibah, negara harus hadir," tegasnya dalam rilis yang diterima Jumat (5/12/2025).

"Kita ingin memastikan bahwa mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian."

Lebih detail, Ino menyebutkan jumlah peralatan yang dikirim cukup signifikan. Ada 3.459 unit yang terdiri dari 945 angkong, 1.256 cangkul, dan 1.258 sekop. Alat-alat sederhana itu dinilai sangat mendesak untuk membersihkan material lumpur, kayu, dan puing-puing sisa bencana yang masih menumpuk di lokasi.

Penyalurannya dibagi per wilayah. Untuk bantuan yang ditujukan ke Sumatera Barat, Kapolresta Pekanbaru Kombes Jeki ditugaskan mengantarkannya langsung. Ini menunjukkan keseriusan Polda Riau dalam menangani krisis.

Di sisi lain, operasi ini ternyata bukan hanya soal peralatan. Dari aspek personel, Polda Riau telah mengerahkan lebih dari 290 orang. Mereka berasal dari beragam elemen: Brimob, Samapta, Polair, hingga tim K-9 dan SAR. Tugas mereka beragam, mulai dari evakuasi, membuka akses jalan, mendirikan tenda, hingga yang paling berat: mencari korban hilang.

Dukungan logistiknya juga masif. Enam truk besar telah meluncur membawa sembako, air mineral, sampai pakaian dan selimut. Untuk Aceh saja, ada tambahan sekitar 10 ton bantuan. Sementara ke Sumatera Barat, kiriman termasuk ratusan kardus mi instan, beras, minyak goreng, bahkan barang-barang khusus seperti pembalut wanita.

Yang menarik, perhatian juga diberikan pada aspek psikologis. Tidak kurang dari 42 psikolog dan tenaga trauma healing diterjunkan. Dapur lapangan pun bekerja tanpa henti, menyiapkan ribuan porsi makanan setiap harinya bagi para pengungsi yang kehilangan tempat tinggal.

Infrastruktur penanganan bencana diperkuat dengan alat berat. Bulldozer dikerahkan, disertai water tank, toilet portabel, hingga kontainer pendingin jenazah. Bahkan, perangkat Starlink dipasang untuk menjaga koneksi komunikasi tetap hidup di lokasi yang infrastrukturnya rusak parah.

Rangkaian aksi ini disebut-sebut sebagai operasi kemanusiaan terbesar Polda Riau sepanjang tahun. Lebih dari sekadar bantuan materi, ini adalah pesan solidaritas.

Seperti disampaikan Ino di akhir penjelasannya, "Bencana bukan hanya tentang apa yang hilang hari ini, tetapi tentang bagaimana kita saling menopang untuk bangkit kembali."

Narasi itu yang coba diwujudkan dalam aksi nyata di tengah lumpur dan duka di Sumatera.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar