SHANGHAI - Dunia robotika lagi-lagi dibuat terperangah oleh terobosan terbaru dari China. Kali ini, robot humanoid bernama AgiBot A2 bukan cuma memecahkan rekor dunia karena berjalan kaki tanpa henti selama tiga hari. Lebih dari itu, ia memamerkan kecerdasan buatan dan kemampuan fisik yang dirancang khusus untuk satu misi: menjadi pelayan di masa depan.
Rekor itu tercatat resmi oleh Guinness World Records. AgiBot A2 menempuh jarak fantastis, 106,286 kilometer. Perjalanan panjangnya dimulai di Suzhou pada 10 November malam, dan berakhir tiga hari kemudian di kawasan Bund, Shanghai sebuah lokasi yang ikonik.
Di balik sorotan rekor berjalannya, perusahaan di baliknya, AgiBot, punya penekanan lain. Mereka bilang, inti dari robot setinggi 169 cm ini adalah melayani manusia. Ya, benar-benar jadi asisten.
Robot ini dilengkapi dengan fungsi obrolan yang cukup responsif. Bahkan, dia bisa membaca gerakan bibir, yang memungkinkannya tetap komunikatif di tengah keributan. Stabilitasnya juga diklaim tangguh, sehingga bisa dipakai di berbagai situasi pelayanan. Yang tak kalah keren, sistem navigasinya memampukannya mematuhi rambu lalu lintas sebuah kemampuan yang diuji selama perjalanan lintas kota itu.
Nah, soal perjalanan tiga hari tanpa henti itu sendiri, jelas jadi bukti ketahanan fisik dan stabilitas mekanis yang luar biasa. Bayangkan, robot pelayan masa depan harus bisa berdiri, berjalan, dan bekerja dalam waktu lama. AgiBot A2 seakan menjawab tantangan itu.
Selama tiga hari penuh, robot silver-hitam ini menjajal berbagai medan. Mulai dari trotoar, jalan dalam kota, hingga rute antarkota. Ia tetap menjaga keseimbangan meski harus berbagi jalan dengan pesepeda, skuter, dan kerumunan orang. Kecepatannya stabil, sebelum akhirnya ia semacam "berparade" di kawasan tepi laut Bund.
Ada rekaman video dari perusahaan yang menunjukkan detik-detik perjalanannya. Robot itu terlihat berjalan dengan ritme yang bagi yang menyaksikan seolah lelah tapi tetap mantap. Koordinasi dan daya tahannya benar-benar lain dari robot humanoid mana pun yang pernah ada.
Pencapaian AgiBot A2 ini bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari ekosistem besar yang sedang digenjot China untuk memimpin di peta robotika global.
Pemerintah China aktif mendukung riset-riset robotika. Baru-baru ini, mereka bahkan menggelar kompetisi robot humanoid pertama di dunia. Bayangkan, lebih dari 500 robot ikut serta, berlomba dalam berbagai cabang, mulai dari main bola basket sampai bersih-bersih secara kompetitif.
Di sisi lain, perusahaan teknologi juga tak mau kalah. Mereka mengucurkan dana besar untuk menciptakan robot yang bisa bekerja di rumah, restoran, rumah sakit, hingga gudang logistik.
Seorang analis dari Morgan Stanley memprediksi, pada 2050 nanti akan ada lebih dari satu miliar robot humanoid yang beroperasi di seluruh dunia. Dan China jelas ingin memimpin pasar yang sangat besar ini.
Dengan segudang kemampuannya mulai dari berjalan stabil, paham percakapan manusia, baca bibir, hingga taat aturan lalu lintas AgiBot A2 memberikan gambaran nyata tentang masa depan. Ia bisa jadi pelayan restoran, penjaga toko, kurir pengantar, asisten rumah tangga, atau bahkan tenaga di layanan publik. Masa depan yang dulu hanya ada di film fiksi ilmiah, kini perlahan menjadi kenyataan.
Artikel Terkait
Andri Pratiwa Ditunjuk Pimpin Shell Indonesia, Fokus Beralih ke Bisnis Pelumas
BPS Ungkap Kuota PBI BPJS Tak Mampu Cover 140 Juta Warga Berhak
Dirut BTN Khawatir Aturan Baru SLIK Bisa Picu Risiko KPR Bermasalah
Timnas Indonesia U-17 Hadapi Malaysia di Laga Krusial Piala AFF Malam Ini