Pasar otomotif kita mungkin akan diguncang perubahan besar. Itu peringatan yang dilontarkan Agus Purwadi, peneliti senior dari Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB. Kekhawatirannya muncul jika Indonesia terlalu leluasa membuka pintu bagi masuknya produk China secara masif.
Memang, mobil listrik murni atau BEV dari China sedang naik daun berkat insentif pemerintah. Tapi menurut Agus, fenomena ini perlu dicermati lebih saksama. Jangan sampai kita terlena.
“Coba lihat negara tetangga kita yang memulai itu sama Thailand, ternyata mereka juga lebih dominan dikuasai pemain China. Tetapi justru memunculkan masalah baru, yang membuat growth-nya juga sedikit,”
Demikian Agus membuka paparannya di Jakarta, Selasa lalu. Menurut data yang ia sajikan, fakta di Thailand cukup mencengangkan: 80 persen mobil listrik yang beredar di sana berasal dari China. Sisanya? Merek lain, tapi tetap diproduksi di Tirai Bambu.
“Thailand sudah menghadapi masalah di otomotifnya, banyak pabrik-pabrik yang mulai menghadapi tantangan. Jadinya kanibal, harusnya dengan kedatangan produk atau merek baru kan menambah penjualan. Tetapi ini justru mereduksi pasar yang sudah ada,” jelasnya.
Buktinya sudah ada. Suzuki Motor Corporation resmi menutup pabriknya di Rayong, Thailand pada akhir 2025. Keputusan itu diambil setelah evaluasi struktur produksi global mereka, dan situasi pasar lokal yang berubah drastis diduga menjadi pemicu kuat.
Namun begitu, ada juga cerita yang berbeda dari negara lain.
“Dua negara Asia Pasifik seperti India dan Vietnam justru mampu mempertahankan industri dalam negeri karena memang punya pemain lokal. Tetap ada produsen lainnya, termasuk dari China,” lanjut Agus.
“Mereka berhasil membangun elektrifikasi internal-nya karena memang punya policy dan juga implementasi yang terukur. Jadi itu mereka bisa mendorong produknya, India itu GDP-nya sedikit lebih rendah dari kita,”
Ia merujuk pada kekuatan produsen lokal seperti Tata Motors dan Mahindra di India. Sementara Vietnam punya VinFast yang sedang gencar melakukan ekspansi. Basis industri lokal mereka kuat.
“Jadi basis lokalnya paling tidak, ada. Ini seharusnya menjadi pembelajaran untuk kita kenapa pada akhirnya India dan Vietnam bisa membangun (pasar) elektrifikasinya,” bilang Agus.
Di sisi lain, Agus tak menampik bahwa kedatangan pemain baru itu bagus untuk menarik investasi. Tapi itu saja tidak cukup. Perkembangan yang liar, tanpa pengawasan dan kebijakan yang adil, justru berisiko merusak fondasi industri yang sudah bertahun-tahun dibangun.
“Kita kan harapannya ini sama-sama tumbuh, yang sudah eksis juga diberi bantuan stimulus agar tetap bertahan karena ekosistem industri mereka sudah terbentuk di sini. Sementara yang baru (hadir) dibantu agar bisa dijangkau oleh masyarakat,” terangnya.
Lalu, bagaimana kondisi di Indonesia sekarang? Agus menyebut setidaknya 60 persen BEV yang terjual di Tanah Air saat ini mayoritas berasal dari China. Sisanya adalah hasil rakitan lokal atau CKD, dan sedikit dari negara lain.
Data dari Gaikindo sepanjang 2025 memperkuat gambaran itu. Pengiriman mobil listrik murni nyaris sentuh 100 ribu unit, tepatnya 99.372 unit. Rinciannya, model CBU China mencapai 60.671 unit atau sekitar 61 persen. Sementara model non-CBU China atau yang dirakit lokal menyumbang 38.701 unit.
Angka-angka itu berbicara. Dan pertanyaannya sekarang, apakah kita akan belajar dari pengalaman Thailand, atau mencontoh ketahanan India dan Vietnam? Jawabannya menentukan masa depan industri otomotif nasional.
Artikel Terkait
Mendagri Beri Tenggat Satu Pekan untuk Pendataan Huntap Korban Bencana Sumatera
UI Nonaktifkan 16 Mahasiswa Hukum Diduga Terlibat Pelecehan Seksual Verbal
HNW Desak Kemenhaj Fokus Sukseskan Haji 2026, Kenaikan Biaya Rp 1,7 Triliun Tak Dikenakan ke Jemaah
Harga Emas Antam Turun Tipis Jadi Rp2.888.000 per Gram