MURIANETWORK.COM – Di kawasan Hambalang, Selasa lalu, anggota Kabinet Merah Putih kembali mengikuti retret kepemimpinan. Ini sudah yang kedua kalinya. Kalau yang pertama dulu digelar di Akademi Militer Magelang, kali ini agendanya lain. Menurut pengamat politik Hendri Satrio, atau yang biasa disapa Hensat, retret kali ini lebih fokus pada evaluasi dan uji soliditas koalisi menyongsong tahun 2026.
“Ada dua poin menurut saya,” ujar Hensat saat dihubungi RMOL, Rabu (7/1/2026).
“Pertama, ya untuk evaluasi kabinet di tahun baru ini, sekalian menguji loyalitas. Tapi yang terpenting, bagaimana Pak Prabowo mengonsolidasikan kabinetnya lagi untuk menyambut 2026. Tahun ini kan bukan tahun yang mudah.”
Hensat juga menyentil soal pernyataan Presiden yang menyebut ejekan sebagai sebuah penghargaan. Ia agak tergelitik mendengarnya. Menurutnya, masukan kritis dari masyarakat seharusnya diterima sebagai bahan perbaikan, bukan dianggap sekadar ejekan.
“Padahal belum tentu,” katanya. “Masukan kritis dari masyarakat seharusnya diterima untuk memperbaiki kinerja, bukan dimaknai sebagai cemooh.”
Lebih jauh, Hensat berharap ada pergeseran paradigma kepemimpinan. Dari yang sekadar mendeskripsikan keadaan, menjadi lebih aktif menggerakkan perubahan. Apalagi di tengah isu ekonomi keluarga dan gelombang PHK yang masih berlangsung.
“Bagaimana menggerakkan keadaan? Ya dengan mengubah apa yang terjadi hari ini di masyarakat,” tegasnya.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir