Di sisi lain, pertemuan langsung dengan kepala daerah, seperti gubernur, dinilainya penting. Dari situlah pemerintah pusat bisa menangkap kebutuhan yang sesungguhnya dan mengambil keputusan berdasarkan fakta di depan mata, bukan sekadar laporan.
Namun begitu, Prabowo mengingatkan sebuah konsekuensi pahit dari jabatan. Menjadi pemimpin berarti harus siap mental menghadapi hujatan, kritik pedas, bahkan fitnah yang tak berdasar. Itu resikonya.
“Salah satu kewajiban seorang pemimpin adalah siap untuk dihujat, siap untuk difitnah,” tegasnya. Meski begitu, ia berpesan agar hal-hal semacam itu tidak sampai mematahkan semangat atau mengubah fokus kerja.
Di akhir pernyataannya, Presiden menegaskan prinsip kerjanya. Semua harus berbasis bukti nyata, bukan pencitraan atau omong kosong belaka. “Saya percaya dengan bukti, evidence based itu cara bekerja saya. Rakyat Indonesia hanya percaya dengan bukti,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Catatan Absensi Anwar Usman di MK Kembali Jadi Sorotan
Wajah Kejaksaan Tercoreng Arang, Terpidana Kasus JK Kabur Lagi
Pilkada Campuran: Solusi atau Sekadar Memindahkan Arena Transaksi?
Menteri Keuangan Tak Bisa Tidur, Menunggu Uang Negara Masuk di Detik-Detik Akhir Tahun