Roy Kiyoshi Diperlihatkan Mimpi Buruk: Air Raksasa Ancam 2026

- Kamis, 01 Januari 2026 | 07:50 WIB
Roy Kiyoshi Diperlihatkan Mimpi Buruk: Air Raksasa Ancam 2026

Roy Kiyoshi punya mimpi buruk. Bukan sekali dua kali, tapi berulang-ulang. Dan mimpi itu, katanya, adalah sebuah firasat tentang sesuatu yang bakal terjadi di tahun 2026. Sebuah "kiamat kecil," begitu ia menyebutnya.

Dalam sebuah wawancara yang beredar di kanal YouTube Intens Investigasi, peramal itu terlihat serius. Suaranya tegas, namun sesekali terdengar seperti masih terbawa perasaan ngeri.

“Sangat-sangat buruk sekali, yang berhubungan dengan alam semesta. Jadi alam semesta ini hal yang berhubungan dengan tanah, dan berhubungan dengan air, air, air yang meluap, meluap sangat besar sekali dan meluap sampai ke daratan,”

Begitu penuturannya.

Ia menggambarkan sebuah bencana besar terkait air. Bukan banjir biasa, dan juga bukan tsunami. Tapi sesuatu di antaranya. Air yang datang begitu dahsyatnya, membanjiri daratan, menenggelamkan rumah-rumah penduduk. Ketinggiannya bisa mencapai lebih dari dua atau tiga meter. Cukup untuk menelan bangunan.

Yang bikin merinding, Roy mengaku bukan cuma melihat. Tapi juga mendengar.

“Aku melihat dengan jelas banget air itu menghampiri, ada banyak orang teriak tolong, lari air sudah sampai, pergi-pergi, kita benar-benar enggak bisa lihat daratan lagi, mobil-mobil kebawa arus,”

jelasnya lagi. Suara teriakan minta tolong dan kepanikan itu terus menghantuinya, bahkan setelah ia terbangun.

Menurutnya, penglihatan ini datang bolak-balik. Sangat mengganggu. Sampai-sampai ia merasa kesulitan untuk mencari kata yang pas. Gimana ya njelasinnya? Seperti tsunami tapi bukan. Dibilang banjir, tapi skalanya jauh lebih spektakuler. Airnya banyak banget, susah dibayangkan.

“Itu sangat mengganggu tidur saya, jadi agak keganggu banget dengan mimpi,”

tukas Roy.

Intinya, ramalannya untuk 2026 itu suram. Sebuah visi tentang air yang meluap luar biasa, menghantam daratan, dan menciptakan kepanikan massal. Sebuah gambaran yang ia harap tidak akan pernah jadi kenyataan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar