Sebuah tragedi mengguncang Desa Demung, Situbondo, Minggu pagi lalu. Satu keluarga ayah, ibu, dan anak ditemukan tewas di dalam rumah mereka. Luka di leher menjadi penyebab yang paling mencolok.
Udara di Besuki, Jawa Timur, pagi itu terasa berat. Sekitar pukul sepuluh lebih, kerumunan warga sudah memadati sebuah rumah. Dari dalam, petugas kepolisian dan tim medis mulai mengangkut tiga jenazah untuk dibawa ke RSUD Abdoer Rahem. Mereka butuh autopsi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Menurut saksi pertama di lokasi, Pangki, berita buruk itu sampai ke telinganya lewat tetangga. “Informasinya dibunuh ayah tirinya,” katanya, suaranya tertahan. Pangki adalah paman dari korban anak. Dia langsung bergegas ke rumah keponakannya bersama istrinya.
“Saat saya tiba di sana, di rumahnya itu sudah banyak orang,” ujarnya.
Kekacauan pun menyusul. Pangki menghubungi ayah kandung si anak yang sedang bekerja jauh di Maluku. Sang ayah, yang jelas terpukul, punya permintaan. “Ayahnya minta agar saya mengawal jenazah anaknya dan minta dikubur di rumah ayahnya di Kota Timur, Besuki,” tukas Pangki. Dia mengaku tak tahu persis siapa yang pertama kali menemukan jasad. Pikirannya hanya fokus pada sang keponakan.
Di sisi lain, polisi sudah bergerak cepat. Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Agung Hartawan, mengonfirmasi temuan mengerikan itu. “Benar, petugas menemukan tiga orang dalam kondisi meninggal dunia. Ketiganya merupakan satu keluarga,” jelas Agung.
Lokasinya terpisah-pisah. Dua korban perempuan diduga ibu dan anak berada di dalam kamar. Sementara korban laki-laki, sang ayah, ditemukan di area kamar mandi dekat dapur. “Saat ditemukan korban mengalami luka di bagian lehernya,” kata Agung. Satu petunjuk lain: sebilah pisau juga diamankan dari TKP. Tapi semua itu masih awal. “Seluruh temuan itu masih dalam proses penyelidikan,” tegasnya.
Kepala Desa setempat, Aguk Prayogi, turut mendampingi proses olah TKP. Dia membenarkan identitas korban: Hasyim (ayah tiri), Suning (istri), dan Nia (anak). “Maaf, tadi masih ikut olah tempat kejadian perkara,” katanya. Namun begitu, dia mengaku belum paham kronologi pastinya. Desa yang biasanya tenang ini kini diselimuti tanda tanya besar.
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih menyisir TKP dan meminta keterangan saksi. Motif dan pelaku masih gelap. AKP Agung berjanji akan segera mengeluarkan rilis resmi. “Masih lidik dan olah TKP. Sebentar lagi akan kami umumkan,” ucapnya singkat.
Sementara itu, di rumah sakit, keluarga hanya bisa menunggu. Mereka berharap jenazah segera diserahkan untuk dimakamkan. Pangki, dengan suara lirih, mencoba mengingat-ingat. “Kalau sehari-hari saya tidak tahu, karena rumah saya jauh. Bahkan saya juga tidak mendengar keluarga sering cekcok,” jelasnya. Kata-katanya justru menambah misteri di balik pagar rumah yang kini sepi itu.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor