Kekalahan Beruntun, Jerman Kehilangan Status Elite Sepak Bola

- Rabu, 01 Juli 2026 | 16:42 WIB
Kekalahan Beruntun, Jerman Kehilangan Status Elite Sepak Bola

Kekalahan Timnas Jerman dari Paraguay melalui adu penalti pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 menjadi pukulan telak bagi Die Mannschaft. Negara dengan empat gelar dunia ini tidak hanya gagal melaju, tetapi juga menunjukkan bahwa masa kejayaan mereka telah berlalu.

Selama puluhan tahun, Jerman identik dengan konsistensi di pentas internasional. Empat gelar Piala Dunia (1954, 1974, 1990, dan 2014), delapan final, serta rentetan semifinal menjadikan mereka acuan sepak bola modern. Sebelum 2018, mereka hanya sekali gagal lolos dari fase grup sepanjang sejarah.

Namun, sejak mengangkat trofi di Brasil 2014, performa mereka terus merosot. Kai Havertz dan kawan-kawan tersingkir di fase grup pada 2018 dan 2022, dan kini kembali kandas setelah dikalahkan Paraguay. Artinya, Jerman belum pernah memenangi satu pun pertandingan fase gugur sejak final 2014.

Pelatih Julian Nagelsmann tidak menutupi kenyataan pahit ini. Menurutnya, rangkaian hasil buruk itu menegaskan bahwa Jerman sudah tidak lagi berada di kelompok elite sepak bola dunia.

"Ini adalah eliminasi ketiga secara beruntun dan itu berarti kami bukan lagi bagian dari tim kelas satu. Ketika Anda tersingkir dari Piala Dunia oleh Paraguay, rasanya sangat menyakitkan. Jika tidak mencetak cukup gol, siapa pun bisa menghukum Anda," ujar Nagelsmann seperti dikutip FIFA.

Selama hampir lima dekade, Jerman juga dikenal sebagai spesialis adu penalti. Mereka menang atas Prancis (1982), Meksiko (1986), Inggris (1990), dan Argentina (2006). Rekor itu berakhir setelah Paraguay menang dari titik putih.

Bukan berarti masalah Jerman terletak pada kualitas pemain. Generasi saat ini dihuni nama-nama seperti Jamal Musiala, Florian Wirtz, Kai Havertz, Leroy Sane, hingga Nick Woltemade, yang tampil gemilang bersama klub masing-masing.

Namun, di lapangan, kualitas individu belum menjelma menjadi kekuatan kolektif. Pada Piala Dunia 2026, Jerman lolos sebagai juara Grup E, tetapi permainan yang ditampilkan tidak meyakinkan. Kesulitan menghadapi Pantai Gading, kalah dari Ekuador, dan gagal menuntaskan dominasi atas Paraguay menjadi gambaran inkonsistensi yang terus menghantui.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags