Kapten Aljazair, Riyad Mahrez, menjadi pusat perhatian setelah pernyataannya usai pertandingan imbang 3-3 melawan Austria di Piala Dunia. Laga yang berlangsung di Stadion Kansas City itu memicu teori konspirasi di media sosial, terutama terkait tersingkirnya Iran.
Iran membutuhkan kemenangan Austria atau Aljazair untuk lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik, namun hasil imbang tersebut menggagalkan harapan mereka. Mahrez mencetak dua gol di babak kedua untuk membalikkan keadaan, tetapi Sasa Kalajdzic menyamakan kedudukan di waktu tambahan.
Pelatih Austria, Ralf Rangnick, bersikeras bahwa dua gol di waktu tambahan membuktikan kedua tim berusaha menang. Namun, Mahrez justru memicu tuduhan pengaturan pertandingan setelah mengakui laga terasa canggung di beberapa momen. Ia mengisyaratkan pemain Austria tidak cukup berupaya, yang memudahkan gol keduanya.
"Sejujurnya, agak canggung," kata Mahrez usai pertandingan. "Kami bermain melebar dan mereka bertahan, tetapi di menit terakhir seseorang mengoper bola, dia berbalik, dan saya harus berlari. Saya harus menghormati sepak bola. Bola sampai di depan kiper dan saya harus mencetak gol – saya harus mencoba mencetak gol. Saya tahu ini situasi yang canggung, tetapi ini sepak bola, dan saya harus menghormatinya."
"Dan hal yang baik – yah, hal yang baik bagi mereka (Austria) – adalah mereka mencetak gol dan mereka lolos. Kami berdua lolos, dan itu yang terpenting hari ini," tambahnya.
Mahrez juga menyebut golnya di waktu tambahan sebagai situasi yang memalukan. "Ketahuilah bahwa ini situasi yang memalukan… tetapi bola sampai kepada saya, apa yang harus saya lakukan? Saya harus mencetak gol dan saya menghormati aturan permainan," tegasnya.
Pertandingan ini mengingatkan pada "Aib Gijon" di Piala Dunia 1982, yang membuat Aljazair tersingkir dan Austria lolos bersama Jerman Barat.
Artikel Terkait
Hasil Imbang Austria vs Aljazair Pastikan Iran Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Austria vs Aljazair Perebutkan Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026 di Laga Pamungkas Grup J