PBSI Ungkap Faktor Psikologis Jadi Penyebab Utama Kegagalan Bersejarah Indonesia di Piala Thomas 2026

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 06:15 WIB
PBSI Ungkap Faktor Psikologis Jadi Penyebab Utama Kegagalan Bersejarah Indonesia di Piala Thomas 2026

Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) akhirnya mengungkap faktor utama di balik kegagalan bersejarah tim bulu tangkis putra tanah air di ajang Piala Thomas 2026. Untuk pertama kalinya sejak berpartisipasi, Indonesia harus angkat koper lebih awal setelah gagal menembus fase gugur turnamen beregu putra paling prestisius tersebut.

Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Eng Hian, menyebut faktor psikologis atlet sebagai penyebab dominan. Tekanan yang begitu besar dinilai membuat para pemain tidak mampu menampilkan performa terbaik mereka sepanjang fase grup.

Menurut Eng Hian, sejumlah atlet mengalami ketegangan berlebih saat bertanding. Kondisi ini bahkan terekam dalam data fisik yang dipantau tim pelatih selama pertandingan berlangsung.

“Kemarin atlet juga menyampaikan ada faktor ketegangan yang belum bisa diatasi di lapangan. Kami sudah siapkan sisi psikolog,” ujar Eng Hian dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Ia kemudian menyoroti kondisi tunggal putra Indonesia, Alwi Farhan. Pebulu tangkis muda itu disebut mengalami lonjakan detak jantung yang sangat tinggi akibat tekanan pertandingan.

“Ini faktor manusia yang tidak bisa diukur pakai angka. Seorang Alwi Farhan itu kami bisa mendata bahwa detak jantungnya dia itu di atas 200 bpm,” jelasnya.

Tekanan besar muncul karena para pemain memiliki ambisi tinggi untuk membawa Indonesia melaju jauh di Piala Thomas 2026. Namun, situasi tersebut justru membuat emosi mereka sulit dikendalikan.

“Faktor utamanya adalah tekanan terhadap atlet. Keinginan mereka begitu tinggi dan berpikir bisa mengalahkan Thailand yang bisa menang lawan Prancis, tetapi dari keinginan itu pemain tidak bisa mengontrol emosinya,” tutur Eng Hian.

Sementara itu, perjalanan Indonesia di Grup D sejatinya tidak sepenuhnya buruk. Bergabung bersama Prancis, Thailand, dan Aljazair, skuad Merah Putih berhasil mengoleksi dua kemenangan. Mereka sukses menghancurkan Aljazair dengan skor telak 5-0, lalu menang dramatis 3-2 atas Thailand.

Namun, kekalahan telak 1-4 dari Prancis menjadi pukulan telak. Hasil tersebut memupus harapan Indonesia untuk melaju ke babak selanjutnya sekaligus menorehkan catatan kelam dalam sejarah partisipasi mereka di Piala Thomas.

Kegagalan ini menjadi alarm keras bagi PBSI. Faktor mental dan psikologis atlet kini dijadikan bahan evaluasi utama, dan persiapan mental dipastikan akan menjadi fokus penting dalam menghadapi turnamen-turnamen besar ke depan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar