I.League Kecam Keras Tendangan Liar Pemain U-20 di Elite Pro Academy

- Selasa, 21 April 2026 | 21:50 WIB
I.League Kecam Keras Tendangan Liar Pemain U-20 di Elite Pro Academy

JAKARTA – Aksi tendangan liar yang dilakukan Fadly Alberto Hengga di laga Elite Pro Academy U-20 menuai kecaman keras. I.League, selaku operator kompetisi, menyebut insiden itu telah mencoreng wajah sepak bola usia muda.

Kejadian bermula di Stadion Citarum, Semarang, Minggu lalu. Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 kalah 1-2 dari Dewa United U-20. Namun, drama justru pecah di menit ke-81. Gol yang dicetak Dewa United dan disahkan wasit memicu protes sengit. Pemain dan ofisial Bhayangkara merasa itu adalah offside yang jelas.

Suasana pun langsung memanas. Kontrol atas lapangan buyar. Bentrokan fisik tak terhindarkan, melibatkan banyak orang dari kedua kubu. Di tengah keributan itu, kamera menangkap aksi Fadly Alberto. Dengan gerakan mirip kungfu, ia melayangkan tendangan keras ke punggung Rakha Nurkholis. Rekaman itu dengan cepat viral dan memicu gelombang kemarahan.

Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Baginya, ini adalah tamparan bagi kompetisi yang seharusnya jadi fondasi sepak bola nasional.

“Sangat disayangkan. Elite Pro Academy ini kan tiang penting, tempat kita mengharapkan lahirnya calon-calon pemain Timnas. Karakter dan sportivitas harusnya jadi hal utama, bukan kekerasan seperti ini,” tegas Ferry.

Ia menegaskan, pembinaan attitude adalah jantung dari EPA. Fair play harus dijunjung tinggi, bukan hanya oleh pemain, tapi juga seluruh perangkat pertandingan.

“Kami sama sekali tidak bisa mentolerir tindakan yang membahayakan keselamatan pemain. Langkah tegas dari PSSI dan Komite Disiplin pasti kami dukung penuh. Biar jadi pelajaran buat semua,” lanjutnya.

Di sisi lain, PSSI juga tak tinggal diam. Sekjen Yunus Nusi menyatakan ketua umum sangat mengutuk kejadian ini.

“Laporan sudah kami terima. PSSI akan segera menyerahkan kasus ini ke Komite Disiplin untuk ditindak seberat-beratnya. Tidak ada kompromi,” tegas Yunus.

Tak cuma pemain, perangkat pertandingan juga jadi sorotan. PSSI mencium indikasi kelalaian yang mungkin memperkeruh situasi.

“Kami prihatin. Semua pihak yang terlibat akan diperiksa. Kalau ada kelalaian dari wasit atau ofisial lain, Komite Wasit akan evaluasi dan beri sanksi sesuai prosedur,” tambahnya.

Ferry Paulus menutup dengan imbauan. Ia mengingatkan semua pelaku sepak bola muda untuk bisa mengendalikan emosi. Sportivitas, katanya, adalah kunci. Amarah di lapangan justru bisa menghancurkan masa depan mereka sendiri.

Kini, bola ada di pengadilan disiplin. Semua menunggu sanksi apa yang akan dijatuhkan, agar insiden memalukan seperti ini tidak terulang lagi.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar