Persebaya dan Persib Susun Strategi Jangka Panjang untuk Bersaing di Asia

- Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:00 WIB
Persebaya dan Persib Susun Strategi Jangka Panjang untuk Bersaing di Asia

MURIANETWORK.COM - Meski jendela transfer telah resmi ditutup, geliat perencanaan untuk musim-musim mendatang justru semakin intens di kalangan klub Liga 1. Dua raksasa, Persebaya Surabaya dan Persib Bandung, dikabarkan tengah menyusun strategi jangka panjang, dengan sejumlah nama besar seperti Ramadhan Sananta, Marselino Ferdinan, dan Ragnar Oratmangoen mencuat dalam berbagai spekulasi. Wacana ini bukan sekadar rumor musiman, melainkan cerminan ambisi kedua klub untuk tidak hanya berjaya di level domestik, tetapi juga mampu bersaing di kancah Asia.

Proyek Jangka Panjang Persebaya: Membangun Fondasi untuk Asia

Di bawah kendali Bernardo Tavares, Persebaya Surabaya tampak sedang menjalani transformasi yang terukur. Atmosfer panas Gelora Bung Tomo tetap menjadi kekuatan, namun kini diimbangi dengan upaya membangun identitas tim yang lebih terstruktur dan disiplin. Visi klub mengarah pada persiapan matang untuk kompetisi kontinental, sebuah ambisi yang tercermin dalam kebijakan rekrutmen dan regenerasi pemain yang lebih hati-hati.

Dalam kerangka proyek jangka panjang inilah, nama Ramadhan Sananta kembali mengemuka. Striker timnas Indonesia yang kontraknya di luar negeri berakhir pertengahan 2026 ini dinilai bukan sekadar solusi instan, melainkan bagian dari desain skuad yang matang. Sananta membawa pengalaman juara bersama PSM Makassar dan naluri gol yang dibutuhkan untuk level tinggi.

Di sisi lain, bayang-bayang Marselino Ferdinan juga tak pernah benar-benar sirna dari percakapan para pendukung. Pemain putra daerah Surabaya itu dianggap sebagai simbol generasi emas yang memiliki visi permainan berbeda.

Secara realistis, kepulangan Marselino dari Eropa bukan perkara gampang. Namun, narasi emosional 'pulang kampung' selalu punya daya pikat tersendiri bagi klub dan suporter.

Menggabungkan striker matang seperti Sananta dengan gelandang kreatif macam Marselino bisa menjadi fondasi ideal bagi Persebaya untuk melangkah lebih jauh. Kombinasi semacam itu akan menjadi pernyataan ambisi yang nyata, bukan sekadar wacana.

Tekanan dan Ekspektasi di Kota Bandung

Sementara itu, di Bandung, Persib tengah melakukan evaluasi mendalam setelah langkahnya di kompetisi Asia terhenti lebih awal. Kekalahan dari Ratchaburi FC menjadi pengingat nyata bahwa level persaingan di Asia membutuhkan lebih dari sekadar skuad kompetitif di atas kertas.

Kegelisahan publik akan kebutuhan figur pemimpin dan penyerang klinis melahirkan spekulasi-spekulasi yang terdengar fantastis, mulai dari Sergio Ramos hingga Ole Romeny. Wacana ini, meski liar, mencerminkan kerinduan akan kehadiran pemain berkarakter besar yang bisa menjadi pembeda di momen-momen krusial.

Dalam konteks pencarian figur pembeda itulah, rumor soal Ragnar Oratmangoen menemukan relevansinya. Pemain berdarah Indonesia yang berkarier di Eropa itu dinilai bukan hanya membawa kualitas teknis, tetapi juga kultur sepak bola dengan tempo tinggi dan mentalitas kompetitif yang agresif.

Kehadiran pemain seperti Ragnar bisa menjadi jembatan bagi Persib untuk menjangkau level yang diinginkan. Namun, tantangannya kompleks, menyangkut adaptasi, komitmen, dan keselarasan visi antara pemain dan klub.

Persib kini berada di persimpangan antara mempertahankan dominasi domestik atau melakukan lompatan orientasi sepenuhnya ke Asia. Pilihan apapun membutuhkan pendekatan dan keberanian yang berbeda.

Dua Jalan Menuju Ambisi yang Sama

Pada akhirnya, baik Persebaya maupun Persib menghadapi pertanyaan mendasar yang sama: bagaimana menjembatani ambisi besar dengan realitas di lapangan? Persebaya memilih jalan membangun dari dalam dengan proyeksi jangka panjang, sementara Persib menghadapi tekanan ekspektasi yang mendorong pencarian solusi yang bisa memberikan dampak lebih instan.

Jika Sananta dan Marselino mewakili proyek masa depan yang terencana, maka wacana tentang Ragnar atau nama-nama besar lain merefleksikan keinginan untuk mendapatkan pemain yang langsung mengubah lanskap permainan.

Dinamika ini menunjukkan bahwa sepak bola Indonesia sedang bergerak. Klub-klub besar mulai berpikir lebih strategis, dengan kompetisi Asia sebagai target nyata, bukan lagi sekadar pelengkap. Untuk mencapainya, dibutuhkan lebih dari sekadar nama besar; diperlukan struktur yang kokoh, manajemen yang visioner, dan konsistensi dalam eksekusi.

Bursa transfer mungkin telah usai untuk musim ini, tetapi roda perencanaan terus berputar. Spekulasi yang kini terdengar mungkin belum terwujud dalam waktu dekat, namun gaung nama-nama besar tersebut adalah pertanda bahwa ambisi itu nyata. Ketika musim 2026/2027 tiba, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan bagaimana rumor-rumor hari ini menjelma menjadi perubahan besar yang membentuk wajah baru persepakbolaan tanah air.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar