SOLO Tekanan zona degradasi memang berat. Tapi Persis Solo justru berhasil merampungkan dua perekrutan penting di saat yang genting. Mereka mendatangkan Dejan Tumbas dan Abu Kamara, dua pemain dengan rekam jejak di Super League yang diharapkan bisa mengubah situasi.
Dua pemain, dua karakter yang berbeda. Namun, misinya cuma satu: menyelamatkan Laskar Sambernyawa dari jurang.
Mari bicara soal Dejan Tumbas dulu. Begitu kontraknya dengan Persebaya Surabaya berakhir, Persis langsung bergerak cepat. Dan Tumbas pun tak banyak berpikir panjang.
“Alasannya sederhana. Persis punya identitas kuat dan basis pendukung yang luar biasa semangat,” ujar pemain asal Serbia itu.
Di usia 26 tahun, Tumbas bukan lagi pemain muda yang perlu dibimbing. Dia datang dengan segudang pengalaman. Yang menarik, dia bisa diandalkan di banyak posisi. Bek sayap, gelandang, bahkan winger semua bisa dia lakoni. Fleksibilitas macam ini jarang ditemukan dalam satu paket.
Kondisi Persis yang tercecer di papan bawah justru dilihatnya sebagai tantangan, bukan halangan.
“Target saya jelas: bantu tim meraih hasil terbaik. Saya akan kontribusikan pengalaman, kerja keras setiap hari, dan tentu saja performa terbaik di lapangan,” tegasnya.
Dari Persebaya, dia membawa warisan disiplin taktik dan daya jelajah tinggi. Aset berharga buat tim yang sedang berjuang mencari bentuk.
Di sisi lain, ada nama Abu Kamara. Meski belum ada pengumuman resmi, di laman I.League namanya sudah tercatat dengan nomor punggung 4 milik Persis.
Kepergiannya dari PSM Makassar sempat bikin penasaran. Catatan tiga gol dari 13 penampilan sebenarnya tidak buruk. Tapi sepak bola itu soal sistem, dan terkadang seorang pemain sebagus apapun tak selalu cocok.
Pelatih PSM, Tomas Trucha, seolah mengiyakan hal itu.
“Dia striker yang bagus, pemain yang bagus. Tapi ya, inilah hidup di dunia sepak bola,” ucap Trucha.
Di Makassar, Abu harus bermain dalam sistem pressing tinggi dengan rotasi posisi yang dinamis. Bukan perkara kemampuan, lebih ke soal filosofi yang kurang klop.
Sekarang, di Solo, dia dapat kanvas baru. Dengan fisik kuat dan naluri mencetak gol, Kamara berpotensi jadi solusi untuk lini depan Persis yang kerap mandul.
Jadi, apa arti kedatangan mereka berdua? Persis mungkin masih terpuruk di klasemen, tapi langkah manajemen ini menunjukkan tekad. Mereka tidak mau menyerah begitu saja.
Tumbas menghadirkan fleksibilitas dan kedewasaan. Kamara membawa daya gedor dan pengalaman di papan atas. Keduanya datang dari klub besar, dengan mentalitas juara.
Di tengah situasi sulit, mendapatkan tanda tangan mereka bukan cuma sekadar urusan administratif. Ini tentang momentum. Titik balik.
Karena dalam sepak bola, sebuah kebangkitan kerap dimulai bukan dari kemenangan gemilang di lapangan. Tapi dari keputusan cerdas di meja transfer, tepat sebelum jendela ditutup.
Artikel Terkait
Cedera Bellingham Lebih Parah, Real Madrid Hadapi Krisis Dua Bulan
Persija Berpeluang Pindah ke JIS Akibat Jadwal FIFA Series di SUGBK
Persis Solo Vs Madura United: Duel Sengit Tim Terjepit di Liga 1
Dewa United Rekrut Bek Jamaika Damion Lowe untuk Perkuat Pertahanan