Kepergiannya dari PSM Makassar sempat bikin penasaran. Catatan tiga gol dari 13 penampilan sebenarnya tidak buruk. Tapi sepak bola itu soal sistem, dan terkadang seorang pemain sebagus apapun tak selalu cocok.
Pelatih PSM, Tomas Trucha, seolah mengiyakan hal itu.
“Dia striker yang bagus, pemain yang bagus. Tapi ya, inilah hidup di dunia sepak bola,” ucap Trucha.
Di Makassar, Abu harus bermain dalam sistem pressing tinggi dengan rotasi posisi yang dinamis. Bukan perkara kemampuan, lebih ke soal filosofi yang kurang klop.
Sekarang, di Solo, dia dapat kanvas baru. Dengan fisik kuat dan naluri mencetak gol, Kamara berpotensi jadi solusi untuk lini depan Persis yang kerap mandul.
Jadi, apa arti kedatangan mereka berdua? Persis mungkin masih terpuruk di klasemen, tapi langkah manajemen ini menunjukkan tekad. Mereka tidak mau menyerah begitu saja.
Tumbas menghadirkan fleksibilitas dan kedewasaan. Kamara membawa daya gedor dan pengalaman di papan atas. Keduanya datang dari klub besar, dengan mentalitas juara.
Di tengah situasi sulit, mendapatkan tanda tangan mereka bukan cuma sekadar urusan administratif. Ini tentang momentum. Titik balik.
Karena dalam sepak bola, sebuah kebangkitan kerap dimulai bukan dari kemenangan gemilang di lapangan. Tapi dari keputusan cerdas di meja transfer, tepat sebelum jendela ditutup.
Artikel Terkait
Pelatih Persebaya Soroti Minimnya Persaingan Internal Sebagai Masalah Mendasar
Veda Ega Pratama Gagal Finis di Moto3 Amerika Usai Kecelakaan
Veda Ega Pratama Kejutkan COTA, Start P4 Moto3 AS 2026
Barcelona Incar Bastoni, Inter Buka Opsi Tukar Pemain